Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Tutorial menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Tutorial menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 April 2010

JANGAN PUAS(A) MENULIS

Semakin sering orang menulis dan semakin sering pula orang memikirkan (membaca) tulisannya, semakin bagus jualah karyanya. DEAN KOONTZ

Kata-kata motivasi diatas saya baca dari salah satu catatan facebook Pak Hernowo, penulis Mengikat Makna Update, yang mengingatkan saya pada komitmen dalam menulis. Hal ini sangat berkaitan erat dengan apa yang pernah saya tulis di AndrieWongso. Com ; Namun sadarkah kita, apa pun definisi yang telah kita buat tentang kesuksesan, kesuksesan tersebut tetaplah dipengaruhi oleh diri kita sendiri. Ya diri kita sendiri. Bukan orang lain. Bukan pemimpin. Bukan rekan sejawat. Bukan perusahaan. Tapi diri kita sendirilah yang menentukan apakah kita akan sukses, akan bahagia, akan tenang dan lain sebagainya.

Dan, saya pun, sebagaimana sering dilakukan Pak Hernowo dalam bukunya Mengikat Makna Update, ingin menambahkan kata "dalam menulis" setelah kata kesuksesan. Sehingga kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa apa pun definisi yang telah kita buat tentang kesuksesan dalam menulis, kesuksesan (dalam menulis) tersebut tetaplah dipengaruhi oleh diri kita sendiri. Ya diri kita sendiri. Bukan orang lain. Bukan pemimpin. Bukan rekan sejawat. Bukan perusahaan. Tapi diri kita sendirilah yang menentukan apakah kita akan sukses dalam menulis, akan bahagia, akan tenang dan lain sebagainya.

Sehingga tepatlah kiranya saya berkomentar mengenai tulisan Pak Hernowo tersebut dengan mengatakan bahwa Para ahli, hanya dapat memberikan perbaikan struktur kata, kalimat bahkan bahasa. Tapi tidak dapat masuk kepada rasa yang diinginkan oleh penulis itu sendiri.

Berkaitan dengan hal tersebut, yaitu komitmen dalam menulis, saya kira puas dan puasa, sebagaimana tulisan ini saya beri judul, adalah dua hal yang berpotensi besar untuk menghancurkan komitmen tersebut.

Puas dalam menulis; saya artikan sebagai kegiatan bahagia dalam menulis sehingga ia TIDAK MENULIS KEMBALI. Padahal, diakui atau tidak, sebagaimana Pak Bambang Trim menuliskan dalam catatan facebook nya bahwa karier kepenulisan kagak ada matinye! Artinya, tidak ada kata PUAS dalam menulis!

Puasa dalam menulis; saya artikan sebagai kegiatan berhenti menulis. Baik itu karena mengalami kebuntuan atau pun ide yang belum matang. Dalam hal ini kebuntuan, solusi yang ditawarkan Pak Andrias Harefa dalam catatan facebooknya yang berjudul Bekal Penulis , sangat dapat dipraktekkan. Sebagaimana Pak Hernowo, Pak Andrias, sebagaimana diakuinya terinspirasi dari bukunya Pak Bambang Trim, meletakkan membaca sebagai salah satu bekal utama seorang penulis. saya mengatasi berbagai kebuntuan ide dengan membaca, sehingga terpicu lagi untuk menulis, tulis beliau.

Ada pun dalam hal ide yang belum matang, beternak ide-nya Pak Nursalam Ar mungkin bisa menjadi solusi. Dalam catatan facebooknya yang berjudul 7 langkah menulis fiksi, beliau menerangkan hal ini di point nomor dua. Beliau menuliskan empat jurus beternak ide; kandangkan, beri makan, kembang biakkan dan jual!

Sebagai kesimpulan, Janganlahlah berhenti menulis, baik karena puas maupun puasa. Teruslah, sebagaimana tulisan Pak Edy Zaques dalam catatan facebooknya, pertahankan semangat menulis untuk meningkatkan branding. Karena membaca tanpa menulis, dalam hal ini Pak Jufran Helmi yang menulis di catatan beliau, seperti orang yang terus makan tetapi tidak pernah membuang air. Hasilnya adalah penyakit!

;Catatan 'Mengikat Makna' catatan facebook
Radinal Mukhtar Harahap

Rabu, 03 Maret 2010

Mengapa Aku Menulis?

Mengapa Aku Menulis?

(Sebuah Motivasi Menulis)

Goresan Pena : Miftah el-Banjary

Ada banyak motivasi mengapa orang ingin menjadi seorang seorang penulis. Ada yang berkeinginan agar mendapatkan populiritas. Namanya dikenal dan disebut-disebut bak seorang selebritis. Dia ingin tampil memukau dihadapan para penggemarnya dalam acara-acara bedah buku. Setiap orang berebut berdesak-desakkan untuk meminta tanda tangannya atau sekedar foto bareng. Ada pula yang menjadikan profesi sebagai penulis sebagai pilihan profesi yang menghasilkan uang. Mengharapkan limpahan rezeki nomplok ketika karya yang ditulisnya 'best seller' atau mengharapkan royalti per 3 bulanan. Dan ada pula yang hanya ingin sekedar berbagi pengetahuan, atau sekedar hobi. Lama aku merenung, menelusuri alasan yang manakah yang mendasari mengapa aku menulis?

Aku kembali terpikir, seandainya aku menulis hanya menginginkan populiritas, seberapa besar populiritas itu? Jika aku menulis hanya untuk mencari kekayaan, maka seberapa banyak kekayaan yang akan kudapatkan? Sekiranya aku menulis hanya untuk sekedar hobi atau meluangkan waktu, maka sungguh aku rugi besar, sebab banyak waktuku yang terbuang hanya untuk sekedar hobi, padahal masih banyak kewajiban yang lebih utama aku lakukan. Aku tidak ingin terjebak dalam jebakan massa .

Menulis Adalah Proyek Peradaban Masa Depan

Dalam perenungan panjang, aku teringat dengan pertanyaan Imam Ghazali. Dalam satu majelis, Imam Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya. "Apakah yang paling dekat dengan kita di dunia ini?" Masing-masing murid memberikan berbagai macam jawaban. Orang tua, guru, teman, istri, anak-anak, kerabat dan berbagai macam jawaban lainnya yang berbeda-beda. Imam Ghazali tersenyum. Beliau tidak menyalahkan jawaban-jawaban tersebut. Namun, beliau punya jawaban tersendiri. "Akan tetapi, yang paling dekat dengan kita adalah mati. Ya, itulah jawaban yang tepat! Jarak antara kita dengan kematian, sama dekatnya jarak antara keluar dan masuknya nafas yang sedang kita hirup saat ini.

Ya, kita semua akan mati! Lantas warisan apakah yang akan tetap mengabadi? Tak ada yang mengabadi, melainkan tulisan yang kita tinggalkan? Bukankah kita mengenal orang-orang hebat sebelum kita, lantaran mereka meninggalkan tulisan? Darimana kita mengenal bahwa Imam Ghazali pernah hidup di abad ke-5? Tentunya dari karya-karyanya, semisal Ihya Ulumuddin, Tahafut Falasifah, Kimia Sa'adah, Minhaj al-Abidîn. Kita mengenal tokoh-tokoh besar dalam sejarah, semisal: Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Katsir, Ibnu Batutah, Ibnu Haitsam, Ibnu Thufail, Ibnu Nafis, dan ratusan ibnu-ibnu yang lainnya. Darimana kita mengetahui bahwa mereka adalah ilmuwan muslim? Ya, tentunya dari karya-karya mereka, bukan? Jasad mereka terkubur dalam perut bumi, namun nama mereka mengabadi lantaran mereka meninggalkan sesuatu yang tertulis. Allazî 'alama bil qalam (Dialah yang mengajarkan kamu dengan pena).

Ada baiknya, kita bercermin dengan para ulama kita terdahulu. Imam Ibnu Taymiyyah jumlah karangannya mencapai 500 jilid. Ibnu Qayyim muridnya juga mengarang tak kurang dari 500 jilid. Imam Baihaqi mengarang lebih dari 1000 juz. Ibnu Jauzi menulis lebih dari 500 buku. Imam Fakhrurazi meninggalkan karangan sebanyak 200 buku. Karangan Abu Ubaidah Ma'mar bin al-Mustanna mencapai 200 buku. Ibnu Suraij mencapai 400 buku. Dan masih ribuan ulama lain yang tak bisa saya sebutkan di sini.

Ya, pekerjaan menulis adalah upaya menuliskan nama si penulisnya di prasasti sejarah. Menulis adalah proyek peradaban masa depan. Jika Descartes mengatakan, "Jika aku berpikir, maka aku akan ada!" Maka di sini aku akan berkata, "Jika aku menulis, maka aku akan tetap ada!" Ya, itulah jawabannya, mengapa aku menulis? Sebab aku ingin abadi! Aku ingin dikenang! Tulisanlah yang akan mengabadikan si penulisnya, kendatipun tubuhnya sudah terkubur bersama tulang belulang yang berserak.

Jika menulis hanya diniatkan untuk populiritas dan materi semata, maka semuanya hanya akan menjadi siksaan. Betapa banyak penulis hebat yang bunuh diri, bukan lantaran mereka tidak mencapai tujuannya, namun mereka lupa bahwa menjadi seorang penulis tak sekedar menekuni dunia kepenulisan, namun di sana ada visi, cita-cita, dan idealisme yang harus diperjuangkan. Lihatlah Ernest Hemingway, misalnya, peraih Nobel Sastra bunuh diri di Ketchum. Idaho pada tahun 1961 dengan menembak dirinya. Atau, Hunter S. Thompson. Dia mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri.

Ada lagi, Virginia Woolf menenggelamkan dirinya ke sungai dengan meninggalkan sepucuk surat kepada suaminya yang menjelaskan bahwa dia merasa akan menjadi gila dan tidak akan sembuh. Terus, Yukio Mishima pada usianya yang baru 45 tahun membunuh dirinya dengan merobek perutnya sendiri (Harakiri). Lalu, Yasunari Kawabata juga melakukan hal yang sama yaitu harakiri di usia 73 tahun dan dia adalah penerima hadiah Sastra Nobel. Masih banyak lagi daftar penulis bunuh diri. Na'udzubillah min dzalik! Mereka tidak abadi, sebab tujuan mereka hanya sekedar tujuan sesaat.

Tekanan batin yang lebih kecil dikala niat sudah tidak ikhlas adalah kekecewaan. Ada banyak penulis yang berhenti menulis, hanya lantaran kecewa naskahnya ditolak penerbit. Ada pemula yang tidak menulis lagi hanya disebabkan kecewa tulisannya dikritik orang lain. Tulisannya tidak dibaca atau diapresiasi. Semua bermula dari kekeroposan batin dan niat yang belum lurus.

Saya baru menyadari betapa dahsyatnya hadist Rasulullah Saw yang pernah diriwayatkan oleh Umar Ibnu Khatab. Redaksi haditsnya pendek, namun maknanya luar biasa hebatnya, sehingga dalam ilmu ushul fiqih redaksi ini menjadi landasan kewajiban dalam seluruh ibadah yang wajib. Hadits itu berbunyi: Innâma al-'amalu bin niyyât (Segala sesuatu harus dimulai dari niat). Indikasi niat seseorang, dapat dilihat dari perilakunya. Karya yang kau tuliskan, ada orang yang mau membaca atau tidak, ada orang yang memuji atau mencemooh, itu bukan urusanmu! Urusanmu adalah menulis dan terus menulis! Oleh karena itulah, prinsip pertama yang harus ada dalam diri seorang penulis adalah ketulusan niat. Wahai para penulis, luruskan niatmu, menulis hanya semata-mata karena berjuang li'la kalamatilllah!

Menulis Adalah Ibadah Sosial

Dalam satu kesempatan berjalan menelusuri kota Cairo (Jami'ah Wafa al- 'amal- Teknologi Mall, Nasr City ) pada malam hari bersama Udo Yamin Majdi (Penulis Quranic Qoutient), saya bertanya kepada beliau, "Udo kenapa sich antum memilih profesi sebagai penulis?" Dengan santai beliau menjawab, "Saya ini bukan orang yang ahli tahajud, saya ini bukan orang yang bisa berderma dengan harta, saya bukan orang da'i yang bisa mengajak orang lain berbuat kebaikan. Saya tidak punya sesuatu yang bisa saya berikan, kecuali saya berharap tulisan saya bisa bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi orang lain. Barangkali di sanalah amal ibadah yang bisa saya lakukan." Ketika mendengar penuturan yang sederhana, namun sarat dengan makna itu, tiba-tiba dada saja tertohok.

Hal sama yang membuat saya terkesima adalah wasiat Mbah Neneng Mahendra kepada Udo Yamin (Direktur milis WSC ini). Saya tidak tahu persis berapa usia Neneng Mahendra sesungguhnya. Saya hanya bisa menduga, barangkali usia beliau lebih dari 60 tahunan. (Maaf Mbah kalau saya salah menyebutkan, hehe..) Beliau salah satu member teraktif di milis WSC saat ini.

Di sini saya hanya ingin memberikan contoh betapa orang yang berusia lanjut seperti beliau masih tetap bersemangat berkarya. Saya pernah membaca pesan yang beliau sampaikan kepada Udo Yamin melalui surat balasan email. Mbah Neneng mengatakan bahwa beliau mempunyai banyak naskah di koper besinya, dan suatu saat silahkan untuk diterbitkan. Beliau pernah berniat menulis cerpen, hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah novel. Di sini saya sebagai anak muda merasa tersentil untuk terus memacu semangat agar bisa mengikuti jejak langkah beliau. Dan ternyata lagi, usia tidak membatasi seseorang untuk terus berkarya. Luar biasa!

Kembali ke cerita Udo tadi, jawaban beliau membuat hati saya benar-benar terenyuh. Iya ya. Ya, berarti menulis termasuk ibadah dong? Iya benar! Sejatinya ibadah tidak terbatas pada ibadah ritual di mesjid saja. Ibadah itu luas. Pekerjaan baik apaapun yang dilakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah dapat kita kategorikan sebagai ibadah. Termasuk menulis yang membawa pembacanya kepada pencerahan dan mengingat Allah.

Saya teringat kepada perjuangan para ulama kita dahulu. Andaikan dahulu para ulama hanya mementingkan shalat sunat ribuan raka'at, berzikir jutaan kali, atau asyik dengan aktivitas ibadah mereka masing-masing, tanpa mereka mau meluangkan waktunya untuk mewariskan ilmu pada lembaran-lembaran kertas, tentunya kita akan kesulitan memahami agama ini. Sebab jarang sekali ada orang yang mau menuliskan tafsir al-Qur'an. Jarang sekali, ada orang yang mau mengkodifikasikan hadits. Sehingga kita tidak bisa mengenali mana hadits yang shahih, mana yang dhaif, mana hadits yang munkar dan mana hadits yang maudhu (palsu). Kita akan kesulitan memahami hukum-hukum syariat, sebab tidak ada orang mau menulis tentang ilmu fiqih dan cabang ilmu-ilmu bermanfaat lainnya.

Pantaslah di dalam al-Qur'an Allah sendiri bersumpah dengan nama pena. Nun. Wal qalami wa ma yasturûn (Nun. Demi yang dituliskan). Di sinilah Rasulullah memuji para penulis, yang aliran tinta mereka ditimbang dengan nilai darah para syuhada. Seorang penulis yang menggunakan penanya untuk berdakwah semata-mata karena Allah termasuk ibadah sosial yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Di sinilah salah satu aplikasi dari redaksi hadits Rasulullah yang mengatakan 'amal jariyyah'; amal senantiasa mengalir, kendatipun jasad si penulisnya telah bersatu dengan bumi. Di sini saya ingin mengajak generasi muda –khususnya para penuntut ilmu- agar meneruskan tradisi mengarang seperti ulama kita zaman dahulu! Jadikanlah aliran tinta penamu sebagai pengganti pedang para syuhada yang telah mengalirkan darah mereka demi menegakkan li'ila kalimatillah!

Cairo, 28 Feb 2010

Pukul : 12. 52 AM

Wassalam

Moderator

7 KIAT MENJADI SEORANG PENULIS

Note : Artikel Ini aku dapat dari milis Wordsmartcenter. Benar-benar artikel yang sangat memotivasi Penulis pemula seperti aku. Dan karena Artikel ini sangat bagus, maka aku post ulang di blog ini lengkap tanpa ada yang ditambahkan dan dikurangkan, sehingga besok-besok jika aku ingin membacanya kembali, aku tak perlu mengobok-obok isi emailku yang hampir berisi 100.000 email :p


7 KIAT MENJADI SEORANG PENULIS

(Sebuah Catatan Harian)

Goresan Pena : Miftahur Rahman el-Banjary*

(Penulis Buku Motivasi : Quantum Motivation)

Jum'at, 26 Februari 2010

Pada saat aku menulis catatan ini, aku sendiri tidak tahu gagasan apa yang akan ku sampaikan padamu, Sobat! Aku hanya mengikuti bisikan kata hati yang menuntun jari jemariku untuk bermain di atas tuts-tuts keyboard komputer ini, layaknya lantunan tuts-tuts piano yang mengiramakan alunan instrumental mengiringi penari balet menari-nari lincah di atas skating. Ya, aku berbeda dengan para penulis lainnya; yang menuangkan ide dan gagasannya, setelah semua idenya terkonsep matang dalam pikirannya. Tidak! Aku bukan tipe penulis seperti itu. Aku hanya menulis dengan mendengarkan kata isi hatiku. Aku tak perduli apa kata orang lain tentang tulisanku. Aku hanya ingin menulis bebas. Sebebas angin yang terbang melayang kemana pun ia ingin melanglang buana. Ya, aku menulis karena bisikan hati. Dan dari sinilah bermula aku bisa menulis!


Tentunya kondisi ini, sangat berbeda pada empat tahun yang lalu. Dulu, aku sama sekali tidak bisa menulis, lebih tepatnya mengarang. Bahkan, hanya untuk menuliskan tentang diriku sendiri atau perasaan yang sedang aku alami susahnya bukan main. Tak jarang perasaan ingin menulis itu tiba-tiba menyeruak membuncah di dadaku, namun aku tak tahu apa yang harus kutulis. Ketika aku mencoba menuliskannya di lembaran-lembaran kertas atau sudah berada di depan layar monitor komputer, tiba-tiba semuanya 'mandek', dan kemudian sirna tak berbekas. Jadilah kertas-kertas itu penuh dengan coretan-coretan tanpa makna, atau layar microsoft word tetap kosong seperti sediakala, sebab semuanya sudah ditelan oleh salah satu dari dua tombol pamungkas "delete" atau "backspace".


Setiap kali aku menuliskan satu paragraf, aku selalu merasa bahwa paragraf itu tidak layak aku tuliskan. Aku tidak yakin bahwa tulisan itu bagus. Terlalu naif jika dibandingkan dengan tulisan orang lain. Aku selalu dihantui oleh perasaanku sendiri. Tulisanku tidak akan sebagus tulisan orang lain. Tulisanku akan dicemooh atau ditertawakan oleh orang lain. Aku yakin, kondisi seperti ini pernah kau alami, bukan? Di sinilah letak permasalahannya, Kawan! Di sinilah awal kegagalan para penulis pemula yang ingin menekuni dunia kepenulisan.


Baiklah, sobat! Melalui catatan harian ini aku ingin berbagi pengalaman dan kiat menjadi seorang penulis. Tak ada tujuan lain, kecuali hanya ingin berbagi dan memberikan kemanfaatan kepada orang lain, sebagaimana yang dikatakan penulis kawakan Gola Gong, "Aku hanya ingin bermanfaat bagi orang lain!" Aku berharap tulisan ini bisa memotivasimu untuk menjadi seorang penulis. Mengapa aku harus menulis? (Insya Allah, judul ini akan kutulis pada artikel lain).


Virus yang Harus Disingkirkan

Terinpirasi dari tulisan guru menulisku -Udo Yamin Majdi (penulis buku Quranic Qoutient)- ternyata baru kusadari bahwa ada semacam virus psikologis yang menjangkiti, sehingga aku tidak pernah menulis satu karya pun waktu itu. Bagaimana penyakit psikologis itu? Baiklah akan kuberitahukan kepadamu. Diantara penyakit psikologis itu adalah:



1. Keliru Mengambil Perbandingan

Sebagaimana yang kuceritakan padamu, mengapa aku tidak pernah bisa mengarang? Jawabannya, karena aku selalu cenderung mengukur kemampuanku dengan kehebatan orang lain. Namun, ketika aku mulai menuliskannya, ternyata hasilnya berbeda. Tidak sebagus orang lain. Hingga akhirnya aku menyerah. Aku yakin kondisi semacam ini tidak terbatas pada diriku saja, bahkan setiap orang yang ingin memulai menjadi seorang penulis pernah mengalaminya. Oleh karena itu, "Jika kamu ingin menjadi seorang penulis yang hebat, maka jangan pernah membandingkan dirimu dengan kehebatan orang lain!" Yakini bahwa setiap orang mempunyai keunikan tertentu dalam hal menulis. Tidak ada yang sama. Setiap penulis mempunyai pusat keunggulan tertentu dalam setiap goresan penanya. Jadikan penulis hebat sebagai rujukan, tapi jangan dijadikan sebagai perbandingan!



2. Tidak Percaya Diri

Banyak hal yang menyebabkan seorang tidak percaya diri. Bisa karena menganggap tulisannya jelek, takut dikritik, takut dianggap bodoh, atau dicemooh dan menjadi bahan tertawaaan orang lain. Semuanya akan berujung pada sikap malu dan minder. Sehingga selamanya dia tidak pernah menghasilkan sebuah karya pun. Sebenarnya sikap tidak percaya percaya diri, bisa diatasi dengan sikap terbuka. Open minded. Caranya seringlah- seringlah meminta bimbingan dan arahan kepada para penulis yang lebih senior. Berikan karya tulisanmu kepada orang yang kamu anggap bisa membimbingmu. Biarkan mereka mengoreksi dan memperbaiki kekuranganmu. Jangan pernah takut dikritik, sebab kritikan adalah pelajaran yang sangat berharga. Jangan pernah malu tulisanmu dibaca oleh orang lain. Tidak selamanya tulisan menggambarkan identitas si penulisnya. Yakinlah bahwa tulisanmu, akan bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi orang lain. "Tulisanku akan dibaca oleh orang lain!" Ya, itulah kalimat bertenaga yang pernah ditulis oleh Maltatuli, seorang penulis besar dari Belanda.


3. Selalu Merasa Bisa

Virus ini lebih berbahaya dari penyakit-penyakit psikologis sebelumnya. Jika penyakit minder, adalah rasa ketidakpercayaan yang berlebihan terhadap kekurangan diri, maka virus yang ketiga ini adalah ekspresi dari tingkat kepercayaan yang terlalu berlebihan. Banyak orang yang bilang, "Ah, kalau tulisan seperti ini, aku juga bisa!" Namun, di saat ia menuliskannya bukannya lebih bagus, bahkan lebih jelek kualitasnya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa mampu untuk menuliskannya, sebelum kamu mencobanya menuliskan hal yang sama. Kalau kau memang bisa, buktikan sendiri!

***

Sabtu, 27 Februari 2010


7 Kiat Menjadi Seorang Penulis

Setiap orang -termasuk kamu sendiri tentunya- mempunyai potensi untuk menjadi seorang penulis. Setiap orang yang mampu membaca dan menulis, berpotensi menjadi seorang penulis. Ahmadun Yosi Rahendra, salah seorang penulis, sastrawan yang kini bekerja sebagai salah satu editor Republika, pernah mengatakan bahwa seorang sarjana yang pernah menulis skripsi, berpeluang besar menjadi seorang penulis hebat. Lebih sederhana lagi, Habiburrahman el-Shirazy alias Kang Abik pernah mengatakan, bahwa seorang yang pernah menulis satu lembar surat saja berpeluang menjadi seorang penulis terkenal yang karya-karyanya terpajang di toko-toko buku besar di berbagai kota . Jadi, kiat pertama menjadi seorang penulis, yakinkan bahwa kamu berpotensi menjadi seorang penulis!


Kata-kata pamungkas inilah yang kemudian mengendap dalam pikiranku dan terus meluap-luap, hingga harus kukatakan "Aku harus bisa menulis!" Semangat inilah yang kemudian menjadi minat, atau dalam istilah agama disebut dengan niat. Seorang tak akan pernah menjadi seorang penulis tanpa didorong oleh minta dan keinginan yang kuat. Barangkali kamu akan melihat betapa banyak orang yang mampu menulis dan membaca, namun hanya segelintir dari mereka yang mampu menuliskan karangan mereka. Betapa banyak para sarjana yang telah berhasil menyelesaikan skripsi, bahkan berhasil menyelesaikan thesis atau desertasi doktor mereka, akan tetapi hanya hitungan jari yang mampu menjadi seorang penulis produktif? Kau tahu apa sebabnya? Ya, semuanya bermula dari niat. Menulis itu mudah, akan tetapi tidak semua orang mampu menulis dengan baik. Sebab mereka yang tidak mempunyai minat yang kuat untuk menjadi seorang penulis, sebaiknya tidak usah bermimpi menjadi seorang penulis. Oleh karena itu, kiat kedua adalah tancapkan niat!


Ada banyak orang yang mengatakan bahwa "Aku tidak berbakat menjadi seorang penulis!". Di sini aku ingin mengatakan, bahwa bakat hanya diperlukan 1% dari modal menjadi seorang penulis. Selebihnya 99% adalah kemauan serta kerja keras untuk berlatih dan belajar. Menulis sama halnya dengan belajar bersepeda. Tidak ada yang instan dan langsung jadi. Semuanya harus melalui proses latihan dan ketekunan. Tidak hanya menulis -dalam hal keterampilan apapun- semuanya membutuhkan latihan dan ketekunan. Lantaran menulis -dalam hal ini mengarang- merupakan seni keterampilan merangkai kata. Oleh karena itulah, pekerjaan seni tidak bisa dilakukan setengah hati. Kiat ketiga adalah teruslah berlatih!


Setiap orang mempunyai pengalaman berbeda-beda dalam mengawali karier sebagai penulis. Ada yang awalnya suka menulis diary di buku hariannya. Ada yang suka menulis, lantaran dia ditugaskan untuk mengisi majalah dinding di sekolah atau di kampusnya. Ada yang mengawali dari menulis artikel-artikel singkat. Dan ada pula yang memulainya dari membuat cerpen atau pengalaman hidupnya.


Nah, aku adalah orang yang mengawali menulis dari point terakhir, yaitu mengawali dari cerpen dan pengalaman pribadi. Di bidang ini, aku bisa dengan leluasa menuangkan apapun yang ada dibenak, tanpa tekanan apapun. Berbeda dengan artikel ilmiah yang –menurutku- menjadikan daya kreativitas otak kanan yang kumiliki 'terkungkung' . Di sini pulalah yang kemudian kita sebut dengan kecenderungan atau bakat. Lebih tepatnya -meminjam istilah Anis Matta- yang kita sebut dengan titik "pusat keunggulan". Pusat keunggulan atau bakat tersebut, baru akan kamu temukan setelah kamu benar-benar terjun menceburkan diri dalam dunia kepenulisan. Kiat kelima, teruslah mengasah kemampuan menulis, disanalah kau akan temukan bakatmu sesungguhnya.


Kendatipun semangat dan kesadaran menulis, baru datang pada usia 23 tahun, aku rasa aku belum terlambat. Kamu tahu Marion Howard Spring , penulis buku Eleven Stories and Beginning? Dia baru menulis pada usia 74 tahun. Bahkan, Maria Olgivie memulai kariernya sebagai penulis pada usia 93 tahun, ketika menyelesaikan bukunya yang berjudul A scottish Chilhood- and What Happened After pada tahun 1986. Jelas, tidak ada kata terlambat bagi kamu yang ingin mengawali karier sebagai seorang penulis. Kiat keenam, jangan pernah merasa terlambat untuk memulai.


Kiat ketujuh, lakukan kegiatan ini selama 7 kali berturut dalam 1 pekan. Kegiatan hari senin adalah menulis. Kegiatan hari selasa adalah menulis. Kegiatan hari rabu adalah menulis. Kegiatan hari kamis adalah menulis. Kegiatan hari jum'at adalah menulis. Kegiatan hari sabtu adalah menulis. Dan kegiatan hari minggu adalah menulis. Dan lakukan berturut-turut sampai tahun depan. Dan buktikan sendiri hasilnya! Anda akan menjadi penulis yang diperhitungkan!


Napoleon Bonaparte, seorang panglima perang Perancis yang terkenal pemberani ternyata lebih takut dengan pena ditangan seorang penulis daripada senjata di tangan para serdadu. Jika senjata hanya mampu membunuh fisik, namun pena bisa menyerang dan mempengaruhi logika dan pikiran orang lain. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan seorang penulis, ia sangat jeli mengamati perilakumu dan ahli mengabadikan dengan goresan-goresan penanya!

Tabik,

Moderator




Cairo , 27 Feb 2010

Pukul: 10. 18 AM

Selasa, 02 Februari 2010

Pandangan Gladwell soal menulis

Pandangan Gladwell soal menulis
Sumber: inspirana.blogspot.com

Malcolm Gladwell adalah seorang penulis jempolan. Buku-bukunya sangat memikat. Tiga yang populer adalah Tipping Point, Blink, serta Outliers. Artikel-artikel pendeknya juga sangat memikat. Dia bukan hanya mampu menulis dengan baik, namun juga sangat inspiratif. Tidak menggurui namun memberi perspektif baru bagi pembacanya.

Tadi pagi saya menemukan satu buku barunya, What the Dog Saw. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama setebal 460 halaman ini dijual dengan harga Rp80.000.

Saya ingin mengutip pernyataan Gladwell tentang kegiatan tulis-menulis. Khususnya tentang bagaimana dia menemukan ide untuk menulis dan mengembangkan gagasan hingga menjadi tulisan yang memikat. Berikut ini pernyataan dia dalam pengantar buku What the Dog Saw:

“Ketika sedang tumbuh dewasa, saya tidak pernah ingin jadi penulis. Saya ingin jadi pengacara, lalu pada tahun terakhir kuliah, saya memutuskan untuk masuk dunia periklanan. Saya melamar ke 18 biro iklan di kota Toronto dan memperoleh 18 surat penolakan. Saya berpikir untuk kuliah pascasarjana, tetapi nilai saya kurang bagus. Saya melamar beasiswa agar bisa pergi ke tempat eksotis selama 1 tahun dan ditolak lagi.

Akhirnya saya menulis. Setelah cukup lama, baru saya sadar bahwa menulis bisa dijadikan pekerjaan. Pekerjaan itu serius dan berat. Menulis itu asyik.

Setelah kuliah, saya bekerja selama 6 bulan di majalah kecil di Indiana yang bernama American Spectator. Lalu saya pindah ke Washington DC dan menjadi penulis lepas selama beberapa tahun, dan akhirnya masuk The Washington Post—lalu dari sana ke The New Yorker.

Sejak itu, menulis tidak pernah menjadi tidak asyik. Dan saya berharap semangat yang menggebu-gebu itu bisa terasa dalam artikel-artikel saya.

***
Kunci untuk menemukan gagasan (dalam menulis) adalah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita. Saya bilang kunci tetapi yang saya maksud adalah tantangan, karena amat sulit melakukannya.

Bagaimana pun naluri kita sebagai manusia adalah menganggap sebagian besar hal tidak menarik. Kita berganti-ganti saluran televisi dan menolak sepuluh sebelum memilih satu. Kita pergi ke toko buku dan melihat 20 novel sebelum membeli satu.

Kita menyusun peringkat dan menilai. Padahal ada begitu banyak hal di luar sana. Kalau mau jadi penulis, Anda harus melawan naluri itu saban hari.

Kunci lain untuk mendapatkan gagasan adalah mengetahui perbedaan antara kekuasaan dan pengetahuan. Dari semua yang akan Anda temui dalam buku ini hanya sedikit yang berkuasa.

Jangan mulai dari atas kalau mau tahu duduk perkara. Mulailah dari tengah, karena orang-orang di tengah lah yang benar-benar bekerja di dunia.