Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

Cerita Yang Tertinggal

Cerita Yang Tertinggal

Desau angin sore yang semilir mempermainkan rambutnya. Udara dingin lembab mulai menembus jaket yang dikenakannya. Warna langit mulai temaram. Menandakan sebentar lagi senja akan datang. Tapi ia tetap pada posisinya. Duduk membatu bersandar sebatang pohon. Menatap pemandangan kota Batu di kejauhan yang terhampar dihadapannya. Tak bergeming.
***
“Nanti sore ku jemput. Tunggu aja di kost!” begitu teriak laki-laki itu setelah mengantarkannya pulang ke rumah kostnya.

Ia terdiam. Melambaikan tangan pada sosok laki-laki itu yang mulai menjauh. Tak terlalu memikirkannya. Karena laki-laki itu bukanlah siapa-siapa.

Namun ketika laki-laki itu kembali muncul di pelataran rumah kostnya. Untuk menjemputnya seperti yang ia janjikan. Debar di dada tiba-tiba muncul tak diundang. Menghantam tembok-tembok pertahanan yang selama ini dibangunnya. Ia tak ingin disakiti lagi. Tidak oleh lelaki ini. Tidak pula oleh lelaki manapun.

“Ayo pergi denganku. Akan kutunjukkan tempat terindah yang akan membuatmu terpesona.”

Teman kuliah. Sama seperti teman lelaki lainnya yang biasa menemani hari-harinya di kampus. Tak ada salahnya pergi bersamanya. Toh, ia hanya teman biasa. Walau di pojokan hati yang tak kasat mata, ada denyar-denyar aneh yang tak biasa.

Dalam boncengan laki-laki bertubuh tinggi di depannya, ia tetap menghalau gelenyar aneh dalam hatinya. Ada rasa nyaman yang selalu dirindukannya. Rasa hangat akan sosok laki-laki yang dulu pernah di pujanya. Namun rasa sakit masa lalu membuatnya kembali membuat tembok-tembok pelindung hatinya.

Tangan laki-laki itu tiba-tiba menyentakkannya. Perlahan laki-laki itu menarik tangan yang sedari tadi ditumpukan dipahanya dan membawanya melingkari pinggang dihadapannya. Diam. Tanpa kata-kata. Membiarkan kehangatan dari genggaman tangan itu merambati seluruh tubuhnya.

“Dia menyukaimu! Perhatiannya itu bukan perhatian seorang teman! Masa kamu tak merasakannya, sih?”
Kata-kata sahabatnya itu kembali menyeruak dalam ingatannya. Membuat dadanya kembali memainkan debar-debar berirama.
***
Sesekali dilemparkannya kerikil-kerikil kecil ke hamparan rerumputan dan pepohonan yang merimbun di kaki bukit ini. Aku ikut terdiam di sisinya. Memperhatikan detail lekuk wajah manisnya yang tertutup kesedihan.

Aku tak begitu mengenalnya. Aku hanya tahu, setiap sore ia akan duduk di situ. Bersandar di pohon yang sama dan menatap ke arah yang sama. Menunggu langit senja memerah dan mengakhirinya ketika kegelapan malam menyelimuti tempat ini. Dulu kupikir ia gila. Hanya gadis gila yang berani menghabiskan waktu ditempat seperti ini malam-malam.
***
Ia menyatakan cintanya malam itu. Disini. Dibawah hamparan langit penuh bintang. Menatap kota Batu di bawah sana yang seperti kota Hongkong di waktu malam. Di tebing, di pinggir jalan masuk menuju tempat wisata air terjun Cuban Rondo.

Ia tidak romantis. Namun dia mampu membuat dadaku menari-nari dalam melodi indah. Genggaman tangannya, tatap matanya saat menyatakan cintanya padaku disini mulai menggoyahkan tembok-tembok pertahanan yang bertahun-tahun kubangun.

Kami menghabiskan waktu disini. Menikmati senja yang memerah saga. Membiarkan kehangatan tangan yang saling menggenggam merambati seluruh denyut nadi tubuh. Menghalau dinginnya udara malam yang menggigit.

Aku tak perlu menjawabnya. Karena aku tahu, ia tak membutuhkan jawaban. Baginya, cinta adalah memberi tanpa syarat. Tak mengharapkan balasan apapun. Dan aku menikmati pemberiannya ini diladang hatiku yang gersang. Berharap ia mampu menumbuhkan ribuan mawar merah di tanah tandus hatiku.

Tahukah kamu? Tembok pertahanku seketika runtuh. Hancur berkeping-keping. Ketika ia membawaku masuk ke dalam sana. Menikmati malam dengan bergandengan tangan. Menyusuri jalan setapak berbatu menuju air terjun itu. Dan di bawah air terjun itu. Bertempias butiran air yang tertiup angin, ia menciumku.
***
Sudah dua malam ini aku menunggunya. Ditempat yang sama. Di bawah pohon yang sama. Di waktu yang sama. Namun ia tak pernah datang lagi. Aku ingin tahu kelanjutan ceritanya. Kemanakah laki-laki yang mampu merobohkan tembok pertahanan hatinya itu? Dua malam ini aku menunggunya hingga larut. Namun hanya desiran angin yang mengisi kekosongan. Dingin yang menggigit nyaris membekukan tulang belulang.

Akhirnya aku berlari ke bumi perkemahan. Ikut merubung api unggun di tengah teman-temanku yang sibuk bernyanyi dan bergitar. Ikut menyanyi di tengah kebingungan. Merindukan kehadiran gadis berwajah sedih yang tak lagi datang.
***
Malam ini adalah malam terakhirku di perkemahan. Besok aku dan teman-teman kantorku akan kembali ke Surabaya. Kembali disibukkan dengan rutinitas kerjaan yang menggila. Tak ada habisnya. Aku ingin kembali bertemu dengan gadis itu.

Namun lagi-lagi aku hanya menemukan tempat kosong. Ditebing yang sama. Di batang pohon yang sama. Aku tertegun. Menunggunya seperti mengharapkan sesuatu yang tak pasti.

“Bodoh!” Kutepuk dahiku sendiri. Kenapa sedari awal tak kutanyakan saja namanya. Atau sekalian saja kuajak berkenalan dan meminta alamatnya atau nomor telponnya. Dalam gundah kudengar teriakan teman-temanku yang memanggilku......
***
Rasa dingin merambati tubuhku. Namun aku tetap disini. Duduk di tebing yang sama. Bersandar di batang pohon yang sama. Siluet tubuhnya masih terbayang dalam benakku. Garis wajahnya yang sedih masih bermain-main dalam ingatanku.

Akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini. Rasa penasaranku tentangmu membuatku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekanku disini. Berharap ada yang mengenalimu. Berharap kamu adalah penduduk sekitar tempat wisata Cuban Rondo ini.

Tadi sore aku tiba disini. Memarkir mobilku di dekat tebing dimana kamu biasa duduk terdiam memandang kejauhan. Seorang Bapak Tua pencari kayu bakar yang biasa mencari kayu bakar di dalam hutan lindung ini lewat di dekatku. Entah angin apa yang membuatku memanggil Bapak Tua itu dan memaksanya untuk duduk sejenak bersamaku.

Aliran darah tiba-tiba berhenti masuk ke jantungku dan sesaat membuatku lupa untuk bernafas ketika Bapak Tua itu bercerita tentangmu.
Kamu bukan penduduk sekitar sini. Dua bulan yang lalu tubuhmu ditemukan di kaki air terjun Cuban Rondo. Darahmu memerahkan aliran sungainya. Tubuhmu terbungkus dalam guyuran air terjun. Tak ada yang tahu penyebab kematianmu. Tak ada yang tahu mengapa kau mengakhiri hidupmu disini. Namun aku tahu, kamu telah menitipkan cerita yang tertinggal untukku. Dan aku juga tahu, kamu kembali tersakiti.

Surabaya, 24 April 2011
Cerita Yang Tertinggal

Desau angin sore yang semilir mempermainkan rambutnya. Udara dingin lembab mulai menembus jaket yang dikenakannya. Warna langit mulai temaram. Menandakan sebentar lagi senja akan datang. Tapi ia tetap pada posisinya. Duduk membatu bersandar sebatang pohon. Menatap pemandangan kota Batu di kejauhan yang terhampar dihadapannya. Tak bergeming.
***
“Nanti sore ku jemput. Tunggu aja di kost!” begitu teriak laki-laki itu setelah mengantarkannya pulang ke rumah kostnya.

Ia terdiam. Melambaikan tangan pada sosok laki-laki itu yang mulai menjauh. Tak terlalu memikirkannya. Karena laki-laki itu bukanlah siapa-siapa.

Namun ketika laki-laki itu kembali muncul di pelataran rumah kostnya. Untuk menjemputnya seperti yang ia janjikan. Debar di dada tiba-tiba muncul tak diundang. Menghantam tembok-tembok pertahanan yang selama ini dibangunnya. Ia tak ingin disakiti lagi. Tidak oleh lelaki ini. Tidak pula oleh lelaki manapun.

“Ayo pergi denganku. Akan kutunjukkan tempat terindah yang akan membuatmu terpesona.”

Teman kuliah. Sama seperti teman lelaki lainnya yang biasa menemani hari-harinya di kampus. Tak ada salahnya pergi bersamanya. Toh, ia hanya teman biasa. Walau di pojokan hati yang tak kasat mata, ada denyar-denyar aneh yang tak biasa.

Dalam boncengan laki-laki bertubuh tinggi di depannya, ia tetap menghalau gelenyar aneh dalam hatinya. Ada rasa nyaman yang selalu dirindukannya. Rasa hangat akan sosok laki-laki yang dulu pernah di pujanya. Namun rasa sakit masa lalu membuatnya kembali membuat tembok-tembok pelindung hatinya.

Tangan laki-laki itu tiba-tiba menyentakkannya. Perlahan laki-laki itu menarik tangan yang sedari tadi ditumpukan dipahanya dan membawanya melingkari pinggang dihadapannya. Diam. Tanpa kata-kata. Membiarkan kehangatan dari genggaman tangan itu merambati seluruh tubuhnya.

“Dia menyukaimu! Perhatiannya itu bukan perhatian seorang teman! Masa kamu tak merasakannya, sih?”
Kata-kata sahabatnya itu kembali menyeruak dalam ingatannya. Membuat dadanya kembali memainkan debar-debar berirama.
***
Sesekali dilemparkannya kerikil-kerikil kecil ke hamparan rerumputan dan pepohonan yang merimbun di kaki bukit ini. Aku ikut terdiam di sisinya. Memperhatikan detail lekuk wajah manisnya yang tertutup kesedihan.

Aku tak begitu mengenalnya. Aku hanya tahu, setiap sore ia akan duduk di situ. Bersandar di pohon yang sama dan menatap ke arah yang sama. Menunggu langit senja memerah dan mengakhirinya ketika kegelapan malam menyelimuti tempat ini. Dulu kupikir ia gila. Hanya gadis gila yang berani menghabiskan waktu ditempat seperti ini malam-malam.
***
Ia menyatakan cintanya malam itu. Disini. Dibawah hamparan langit penuh bintang. Menatap kota Batu di bawah sana yang seperti kota Hongkong di waktu malam. Di tebing, di pinggir jalan masuk menuju tempat wisata air terjun Cuban Rondo.

Ia tidak romantis. Namun dia mampu membuat dadaku menari-nari dalam melodi indah. Genggaman tangannya, tatap matanya saat menyatakan cintanya padaku disini mulai menggoyahkan tembok-tembok pertahanan yang bertahun-tahun kubangun.

Kami menghabiskan waktu disini. Menikmati senja yang memerah saga. Membiarkan kehangatan tangan yang saling menggenggam merambati seluruh denyut nadi tubuh. Menghalau dinginnya udara malam yang menggigit.

Aku tak perlu menjawabnya. Karena aku tahu, ia tak membutuhkan jawaban. Baginya, cinta adalah memberi tanpa syarat. Tak mengharapkan balasan apapun. Dan aku menikmati pemberiannya ini diladang hatiku yang gersang. Berharap ia mampu menumbuhkan ribuan mawar merah di tanah tandus hatiku.

Tahukah kamu? Tembok pertahanku seketika runtuh. Hancur berkeping-keping. Ketika ia membawaku masuk ke dalam sana. Menikmati malam dengan bergandengan tangan. Menyusuri jalan setapak berbatu menuju air terjun itu. Dan di bawah air terjun itu. Bertempias butiran air yang tertiup angin, ia menciumku.
***
Sudah dua malam ini aku menunggunya. Ditempat yang sama. Di bawah pohon yang sama. Di waktu yang sama. Namun ia tak pernah datang lagi. Aku ingin tahu kelanjutan ceritanya. Kemanakah laki-laki yang mampu merobohkan tembok pertahanan hatinya itu? Dua malam ini aku menunggunya hingga larut. Namun hanya desiran angin yang mengisi kekosongan. Dingin yang menggigit nyaris membekukan tulang belulang.

Akhirnya aku berlari ke bumi perkemahan. Ikut merubung api unggun di tengah teman-temanku yang sibuk bernyanyi dan bergitar. Ikut menyanyi di tengah kebingungan. Merindukan kehadiran gadis berwajah sedih yang tak lagi datang.
***
Malam ini adalah malam terakhirku di perkemahan. Besok aku dan teman-teman kantorku akan kembali ke Surabaya. Kembali disibukkan dengan rutinitas kerjaan yang menggila. Tak ada habisnya. Aku ingin kembali bertemu dengan gadis itu.

Namun lagi-lagi aku hanya menemukan tempat kosong. Ditebing yang sama. Di batang pohon yang sama. Aku tertegun. Menunggunya seperti mengharapkan sesuatu yang tak pasti.

“Bodoh!” Kutepuk dahiku sendiri. Kenapa sedari awal tak kutanyakan saja namanya. Atau sekalian saja kuajak berkenalan dan meminta alamatnya atau nomor telponnya. Dalam gundah kudengar teriakan teman-temanku yang memanggilku......
***
Rasa dingin merambati tubuhku. Namun aku tetap disini. Duduk di tebing yang sama. Bersandar di batang pohon yang sama. Siluet tubuhnya masih terbayang dalam benakku. Garis wajahnya yang sedih masih bermain-main dalam ingatanku.

Akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini. Rasa penasaranku tentangmu membuatku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekanku disini. Berharap ada yang mengenalimu. Berharap kamu adalah penduduk sekitar tempat wisata Cuban Rondo ini.

Tadi sore aku tiba disini. Memarkir mobilku di dekat tebing dimana kamu biasa duduk terdiam memandang kejauhan. Seorang Bapak Tua pencari kayu bakar yang biasa mencari kayu bakar di dalam hutan lindung ini lewat di dekatku. Entah angin apa yang membuatku memanggil Bapak Tua itu dan memaksanya untuk duduk sejenak bersamaku.

Aliran darah tiba-tiba berhenti masuk ke jantungku dan sesaat membuatku lupa untuk bernafas ketika Bapak Tua itu bercerita tentangmu.
Kamu bukan penduduk sekitar sini. Dua bulan yang lalu tubuhmu ditemukan di kaki air terjun Cuban Rondo. Darahmu memerahkan aliran sungainya. Tubuhmu terbungkus dalam guyuran air terjun. Tak ada yang tahu penyebab kematianmu. Tak ada yang tahu mengapa kau mengakhiri hidupmu disini. Namun aku tahu, kamu telah menitipkan cerita yang tertinggal untukku. Dan aku juga tahu, kamu kembali tersakiti.

Surabaya, 24 April 2011

Jumat, 03 September 2010

Penampakan

Jam tiga pagi akhirnya sampai juga aku di Semarang. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan selama delapan jam membuat badanku didera kelelahan yang sangat. Kantuk pun nyaris tak tertahankan lagi karena selama di Bis Patas itu, aku nyaris tak dapat memejamkan mata karena sopir bis nya menyupir bisnya dalam kecepatan yang tinggi.

"Mo mampir cari makan dulu ato mo langsung pulang aja, Cha?" Tanya Adi, suamiku yang menjemputku di depan terminal Terboyo.

"Langsung pulang aja deh, capek banget aku," sahutku dalam kantuk yang semakin menyerang.

Malam itu, aku langsung tertidur di kamar kost yang baru kusewa untuk satu bulan. Hanya selama aku berada di Kota Semarang ini. Aku mendapat kamar mungil di lantai II dengan ruang tamu kecil di depannya dan satu kamar lagi di hadapan kamarku yang ternyata tak berpenghuni. Keadaan rumah kost yang berpenghuni sedikit tak menjadi pusat perhatian utamaku. Kamar yang nyaris kosong pun tak begitu penting bagiku. Yang penting tidur dulu. Sisanya bisa di urus besok pagi, batinku sebelum aku lelap dalam tidur tak bermimpi.

Besok harinya dengan badan segar setelah mandi. Aku pergi mengunjungi kerabat dan kenalan. Barang-barangku masih kubiarkan saja tersimpan dalam tas. Hanya baju yang kuperlukan saja yang sengaja kugeletakkan diatas tempat tidur. Kamar tidurpun masih tetap kubiarkan apa adanya. Seharian itu aku berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Baru sore harinya aku kembali ke kost untuk mandi dan berganti pakaian. Rumah kost lenggang. Sepi seperti tak berpenghuni. Ah.... paling penghuni yang lain pada belum pulang kerja, karena itulah rumah ini sepi sekali, batinku lagi berusaha berpikiran positif. Hanya sebentar aku berada di kost itu, karena tak berapa lama Adi kembali mengajakku keluar untuk makan malam.

"Ga papa kan kamu sendirian di kost malam ini?" Tanya Adi waktu mengantarku pulang ke kost. " Aku masuk kerjanya malam, Cha, jadi ga bisa nemenin kamu jalan-jalan di malam hari selama kamu berada di sini." lanjutnya lagi.

Setelah menyatakan bahwa aku akan baik-baik saja, Adi langsung berangkat ke tempat kerja meninggalkanku di depan kost.
Aku membuka pintu depan rumah kostku dan mendapati ruang tamu dalam keadaan gelap gulita dan dua kamar bawah yang ada penghuninya pun masih dalam keadaan gelap tak bernyala lampu. Tanpa berpikiran apapun, aku menyalakan lampu ruang tengah dan langsung masuk ke kamar mandi untuk cuci muka.

Entah mengapa, sebelum naik tangga, aku mengucapkan salam " Assalamualaikum". Dan tanpa kuduga, aku malah mendengar jawaban "Waalaikumsalam"..... Kupikir saat itu, Mas Dani, pemilik rumah kost itu yang kebetulan kamarnya berada dekat dengan tangga, yang menjawab salamku itu. Maka dengan hati tenang aku naik ke kamarku. Melewati ruang tamu kecil di depan kamarku yang masih gelap dan membuka pintu kamarku dengan perlahan.

Baru saja beberapa menit aku duduk di atas tempat tidurku, suara langkah kaki seseorang terdengar berjalan di depan kamarku. Padahal sebelumnya, aku tak ada mendengar suara langkah seseorang yang menaiki tangga kayu. Agak mengherankan memang, tapi belum sempat aku mengintip langkah siapakah itu, seekor kecoak mengganggu pandanganku.

Aku memang sangat takut dengan berbagai jenis binatang yang merayap dan melata. Namun karena hanya aku sendiri yang berada di situ, aku berusaha mengatasi ketakutanku akan kecoak itu dan langsung berusaha mengusirnya dari kamarku. Saat aku membuka pintu kamar untuk mengusir kecoak itu, hawa dingin tiba-tiba merayapi seluruh tubuhku. Padahal jelas-jelas baik jendela ruang tamu depan maupun jendela kamarku tak ada satupun yang terbuka.... Aku merinding. Bulu kuduk meremang membuat perasaanku benar-benar tak nyaman. Segera kututup kembali pintu kamarku dan langsung duduk di atas tempat tidurku.

Tidak sampai lima menit. Kecoak itu kembali masuk ke kamarku melalui sela di bawah pintu. Dengan gemas aku berusaha memburu kecoak itu untuk mematikannya dan melupakan rasa tak nyaman dan merinding itu sejenak. Akhirnya kecoak itu berhasil kubunuh dengan melemparnya dengan sebuah buku tebal. Rasa lega karena terbebas dari fobia serangga, tapi rasa jijik muncul ketika melihat tubuh kecoak yang gepeng tak berupa. Tanpa memikirkan kejadian sebelumnya, aku membuka pintu kamarku lagi untuk mengambil sapu yang memang diletakkan di sisi luar kamarku.

Saat tanganku meraih gagang sapu, aku merasakan kehadiran seseorang di ruang tamu kecil itu. Tanpa sengaja aku langsung mengedarkan pandanganku ke arah sebuah kursi dan meja kecil yang diletakkan di pojokkan ruang tamu itu. Dalam remang-remang ruangan yang tak berpenerangan.... aku melihat sesosok laki-laki di duduk di kursi itu dan memandang ke arahku. Hanya sekejap aku melongo, dan sebelum rasa merinding yang sangat hebat menyerang tubuhku itu membuat kakiku lumpuh tak bergerak, aku langsung melemparkan sapu, mengunci pintu kamarku dan langsung berlari melewati ruang tamu itu. Melewati sesosok laki-laki yang nyaris tak bergerak itu. Lari menuruni tangga dengan langkah-langkah kaki tak terkontrol yang menyebabkan aku tergelincir di tangga. Secepat kilat kembali berdiri dari jatuhku itu dan dengan tangan gemetar berhasil membuka pintu depan rumah kost.

Begitu sampai di depan rumah, rasa merinding itu tetap menyerangku. Rasa takut itu sungguh tak tertahankan. Dan aku memerlukan waktu 15 menit sampai akhirnya aku berhasil membuka gembok pagar depan agar aku bisa meninggalkan rumah kost itu.

Malam itu, aku menyusul Adi ke tempat kerjanya. Dan dengan malu-malu menceritakan kejadian yang telah menimpaku.

"Ha...ha...ha... Perasaanmu aja kali tuh, Cha. Kamu kan memang penakut kalau di tempat gelap. Maaf deh, aku lupa meminta pemilik kost untuk memasangkan lampu di depan kamarmu itu," gelak Adi begitu aku selesai menceritakan kejadian yang menimpaku di kost itu.

Besok paginya, ketika aku kembali ke kost itu lagi dengan di antar Adi, aku bertemu dengan Pak Untung. Bapak Untung itu penghuni terlama di rumah itu. Ia menempati kamar paling depan di lantai I. Dan tanpa sengaja Adi menyeletuk ke Pak Untung :" Pak, Arek e minta pindah ketok e, tadi malam di weruhi kata e." (Pak, anaknya sepertinya minta pindah, tadi malam di perlihatkan sesuatu, katanya)

"Heh? Masa? Di mana?" tanya Pak Untung sambil menatapku.

"Di kursi kecil di pojokan ruang tamu atas," sahutku malu-malu karena tak yakin apakah penglihatanku tadi malam itu benar atau hanya karena aku memang penakut.

"Oalah.... Si Mbah itu memang tempatnya disitu. Dulu ada kursi panjang dari bambu yang menjadi tempatnya di ruang atas itu, tapi oleh Bu Yoga, penghuni yang dulu tinggal di kamar di depan kamarmu itu, kursi bambu itu sudah dikeluarkan..."

"Hah??? Si Mbah siapa, Pak?" tanyaku kaget.

"Ya... Penunggu rumah ini.... Dari dulu memang sudah ada. Dan memang setiap rumah kan ada penjaganya. Nah si Mbak itu sepertinya penjaga rumah ini. Namun hanya pada beberapa orang saja ia memperlihatkan diri. Dia ga mengganggu kok." jawab Pak Untung santai....

Astaga!!! Ternyata rumah kost ini ada penunggunya. Dan setelah mendengar cerita lengkapnya. Pantas saja kamar-kamar yang di atas kosong karena Si Mbah selalu menunjukkan dirinya pada penghuni kamar atas. Pak Budi, penghuni kamar yang sekarang menjadi kamarku langsung keluar setelah "berkenalan" dengan si Mbah. Bu Yoga juga langsung keluar karena pengalamannya lebih ekstrim lagi karena si Mbah langsung menanyainya kemana kursi bambunya. Dan aku???

Sepertinya aku pun lebih baik cepat-cepat mengungsi saja ke tempat kost lain karena nyaliku yang memang sudah penakut tak mungkin tiba-tiba jadi pemberani dalam kondisi ini....


@Semarang, 29 Agustus 2010


Kamis, 22 April 2010

Galau Hati

Dalam segala kegalauan hatiku.
Dalam segala renungan panjangku.
Aku terpuruk dalam sepi.
Rasa sepi yang begitu menyiksa.
Rasa tercampakkan ini begitu menyakitkan.
Asa itu pergi entah kemana.
Seperti kamu yang semakin menjauh dariku.

Kenangan indah mengabur tertutup kabut.
Dan kau turut bersamanya…
Menghilang perlahan namun tetap terasa.
Dan aku bagai daun yang berguguran tertiup angin senja.
Melayang-layang tak tentu rimba,
Karena kau lepaskan pegangan tanganmu dariku.

Entah apa yang sebenarnya kau cari.
Aku berusaha mengerti namun tetap saja tak mengerti.
Aku berusaha memahami walau kau tak berusaha ikut memahami.
Tak tahu apa yang harus kulakukan.
Tak ada lagikah aku di hatimu?
Tak sama lagi kah rasamu seperti rasaku… atau rasa kita yang dulu pernah sama sudah menghilang entah kemana….

Kusadari aku tidaklah sempurna.
Kusadari mungkin aku tak bisa menjadi seperti yang kau minta.
Sekuat apapun aku ingin memenuhinya….
Selalu kurang saja di matamu.
Selalu saja salah karena tak seperti yang kau mau….

Cinta itu sebenarnya apa?
Aku menjadi tak mengerti adakah sebenarnya cinta di antara kita?
Bukankah cinta penuh dengan segala rasa?
Bukankah cinta itu saling peduli?
Bukankah dengan cinta perbedaan pun menjadi sama….
Jika memang ada cinta, pergi kemana sekarang cinta?
Menghilang kemana cinta itu?

Aku ingin mencarinya….
Tapi aku tak tahu kemana harus mendapatkannya.

Katanya cinta itu ada di dalam hati.
Sejak kutahu itu… kutitipkan hatiku yang penuh dengan cinta kepadamu….
Kenapa kau kini menjauh dariku?
Dan kenapa hatiku juga kau bawa pergi?

Sekarang bagaimana aku melanjutkan hidupku tanpa hati?
Bagaimana aku melanjutkan hidupku tanpa kamu yang pernah begitu mencintaiku

Sekarang semuanya begitu hampa. Sekuat tenaga aku menata. Sekuat tenaga kutahan rindu yang menyiksa. Segala cara kualihkan tentangmu yg selalu bermain di pelupuk mata.
Tapi aku tak bisa…
Bagaimana caranya aku menghilangkanmu jika ternyata kmu sudah menjadi nafasku.
Bagaimana caranya aku melupamu jika aku hanya ingin hidup di dunia yang ada kamunya.
Sekuat apa aku harus berusaha jika kau terus bermain dalam setiap nafas yang terhela…
Jika… Aku adalah kamu. Dan kamu adalah aku. kenapa perlahan kau bangun batas itu.
Batas yang membuat kita kembali menjadi dua… bukan lagi satu…..

Aku ingin tahu… bagaimana kamu hidup tanpa mengingatku…?
Aku sungguh ingin tahu bagaimana kau melewati harimu jika mengingatku saat ada kata sempat?
Bagaimana caranya???
Bisakah kamu memberitahuku?
Dalam diam ku menunggu… menunggu saat-saat kau kembali ingat padaku.
Menunggu yang begitu sepi dan menyesakkan.
Menunggu dalam rindu dan pilu yang menjadi satu…
Aku sungguh lelah menunggu kalau akhirnya hanya tangis yang datang menyapaku.

Kenapa cinta begitu penuh rasa sakit seperti ini?
Kenapa rindu tak berbalas hampir membuatku mati?
Kenapa rindu ini menjadi setengah mati…..

Kini jauh sudah kujalani kisah cinta kita yang menjadi penuh duri…
Kini kuhancur dan rapuh….Aku tak yakin lagi ada cinta di dunia ini
Hari-hari kini kulalui dalam sunyi….
Tanpa mimpi dengan seribu tanya sesaki sudut hati

Masihkah ada cinta dihatimu?
Tak dapatkah kau tulus mencintaiku?
Tak dapatkah kau menyayangiku?
Tak dapatkah kau pahami sedikit saja inginku?

Atau kau akan tetap terus melangkah pergi.........
Dan membiarkanku terbiasa dalam sepi.


(c) Cha, 22 April 2010
Ketika kau tak lagi peduli lagi padaku
Ketika saat sempat saja kau cari aku
Dan aku mulai menyelam dalam rindu
perlahan melayang bagai debu

Selasa, 20 April 2010

Ketika aku mengenal Helvy Tiana Rosa

(Naskah ini sebenarnya mau kuikutkan untuk lomba essay HTR... tp batas waktu lomba kan tgl 15 April 2010. Karena aku baru mengenalnya tgl 18 April 2010... da menuliskan naskah ini tgl 20 April 2010... ya udah gpp. Naskah ini untuk apresiasi ku terhadap buku Helvy yang sudah kubaca dan ternyata membawa pengaruh yang baik untukku... Thanks to Helvy atas karyanya yang indah )


KETIKA AKU MENGENAL HELVY TIANA ROSA

Baru setahun terakhir ini terbersit dalam pikiranku untuk belajar dan mengasah kecintaanku akan dunia tulis menulis. Keinginan ini timbul karena banyaknya waktu luang yang sekarang kumiliki serta dorongan dari beberapa teman-teman SMA yang dulu sering membaca karanganku.

Sejak keinginan untuk belajar menulis semakin berakar dalam hatiku, aku semakin giat mengikuti berbagai milis kepenulisan dan salah satunya adalah milis milik Forum Lingkar Pena. Selain itu aku juga mulai mengikuti sayembara menulis yang kutemukan di milis. Dan ketika awal bulan April yang lalu, aku membaca ada lomba menulis essay tentang Helvy Tiana Rosa, aku malah kebingungan. Siapa sebenarnya Helvy Tiana Rosa?

Ratusan buku novel telah kubaca baik karya-karya penulis dalam negeri maupun penulis luar negeri. Hampir dua kali dalam seminggu aku mampir di toko buku besar di kotaku, Banjarmasin, namun tak juga Helvy Tiana Rosa itu kutemukan. Aku semakin penasaran. Dan keinginanku untuk ikut lomba essay tentang Helvy Tiana Rosa ini semakin pupus dengan berjalannya waktu yang semakin mendekati batas waktu pengiriman naskah. Kecintaanku akan buku dan kegilaanku akan membaca seperti tak dapat membawaku untuk mengenal seorang Helvy Tiana Rosa.

Suatu ketika, aku membaca notes dari facebook seorang teman tentang bagaimana ia mengenal Helvy, perjuangannya sampai akhirnya dapat bertemu secara langsung dengan Helvy dalam sebuah pertemuan penulis, walau harus menempuh perjalanan yang sedemikian beratnya namun semuanya langsung terbayar ketika ia bertatap muka dengan Helvy yang dengan menyambutnya di acara tersebut. Semangatnya untuk menulis pun semakin kuat setelah kata-kata Helvy dan karya-karya Helvy mendukung langkahnya dalam dunia kepenulisan. Aku tertegun membaca notes itu. Sedemikian hebatkah pengaruh seorang Helvy Tiana Rosa?

Aku benar-benar tak mengenal seorang Helvy itu. Jika aku tak mengenalnya, bagaimana aku bisa menulis tentang dirinya? Bagaimana aku bisa menceritakan pengalaman hatiku ketika membaca karyanya? Karya-karyanya kenapa begitu susah kutemukan? Apakah buku-buku itu hanya tersedia di toko-toko buku online? Kenapa tak tersedia di toko buku di dunia nyata yang bisa di beli siapa saja jika memang karyanya itu sehebat yang di ceritakan temanku? Betulkah karya Helvy dapat menginspirasi penulis-penulis pemula seperti aku? Ah…. Sepertinya keinginan untuk ikut lomba essay ini harus benar-benar di lupakan saja.

Namun rasa penasaran tak jua kunjung sirna. Padahal aku sudah memutuskan bahwa aku tak bisa menulis apapun tentang Helvy, tetapi tetap saja setiap aku berselancar di dunia maya, aku malah mencari-cari semua informasi tentang dirinya.Tapi semua yang kudapatkan adalah pengalaman orang lain. Itu semua kan masih katanya! Bukan pengalamanku sendiri. Memegang bukunya saja aku tak pernah, masa aku harus menuliskan cerita tentang seorang Helvy yang penuh inspirasi berdasarkan kata orang. Aku tidak mau menuliskan ceritanya hanya berdasarkan kata orang. Iya kalau benar, kalau ternyata Helvy tak sehebat itu, bagaimana? Tak mungkin bagiku menuliskan seseorang yang begitu nyata tanpa aku pernah merasakannya sendiri!

Kulihat penanggalan di agendaku yang mencatat semua tanggal deadline lomba-lomba kepenulisan. Kenyataan pahit terpampang jelas di depan mataku. Tanggal 15 April telah terlewati. Sudah tak sempat lagi. Namun kemisteriusannya menarik diriku untuk tetap mencari tahu.

Tanggal 18 April 2010 aku akan ikut wawancara penerimaan anggota baru FLP Banjarmasin. Satu per satu pertanyaan dari Mbak Sri Murni, pewawancaraku, dapat kujawab dengan lancer karena pertanyaan itu masih tentang siapa diriku dan mengapa aku ingin bergabung dalam Forum Lingkar Pena ini.

Sampai pada satu pertanyaan yang mengungkit rasa bersalahku.

“Apa yang kamu ketahui tentang FLP?” Tanya mbak Sri Murni padaku.

Minggu yang begitu cerah ini tiba-tiba terasa di tutupi mendung dan gerimis mulai mengguyur hatiku. Bagaimana bisa aku ingin bergabung dalam suatu forum tanpa tahu sedikitpun forum apakah itu? Yang aku tahu hanya FLP adalah kumpulan penulis-penulis hebat yang akan membantuku mengasah kemampuan menulisku. Hanya itu.

“Siapa saja penulis FLP yang karyanya sudah Mbak baca?” satu pertanyaan lagi menohok rasa malu-ku.

“Mungkin hanya tahu namanya saja… seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja yang sekarang lagi sakit, tapi tak satupun karya mereka yang pernah kubaca,” lanjutku dengan tersipu

Dari sinilah segala yang ingin kutahu kutanyakan. Terutama tentang Helvy Tiana Rosa dan karyanya. Akhirnya aku tahu Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan Muthmainnah adalah pendiri FLP dan katanya pula banyak hal yang membuat karya-karya Helvy dan penulis-penulis FLP lain tidak bisa di dapatkan dengan mudah di toko-toko buku besar. Dari pembicaraan hari ini pula akhirnya aku mendapatkan nama sebuah toko buku yang menyediakan buku-buku FLP termasuk buku-buku karya Helvy Tiana Rosa.

Tiga buah buku yang ada nama Helvy Tiana Rosa akhirnya kudapatkan. Cuma tiga buah buku saja yang ada di toko buku itu. Itupun ditemukan setelah agak memaksa si penjaga toko bukunya untuk mencarikan yang akhirnya di temukan di pojokan rak paling bawah, agak tersembunyi dan dengan sampul yang mulai menguning.

Begitu sampai di rumah aku langsung bersiap untuk membacanya. Buku pertama yang memikat hatiku adalah ‘SEGENGGAM GUMAM’. Dari buku ini aku mengenal Helvy yang lahir di Medan, tanggal 2 April 1970. Hanya beda 8 tahun lebih tua dariku. Dari perbedaan usia yang tak terlalu jauh dariku, namun apa yang dilakukan Helvy dalam dunia kepenulisan ternyata sangat jauh dariku.

Helvy menulis puisi, cerpen dan naskah drama serat teater sejak duduk di Sekolah Dasar. Malah ketika masih di kelas III SD, puisi Helvy telah dimuat di majalah anak-anak dan ketika kelas V SD, untuk pertama kalinya karyanya dimuat di Koran Sinar harapan Minggu. Padahal aku yang mengaku-ngaku suka menulis sejak kecil, tak pernah berpikir untuk mengirimkan karyaku kemanapun atau membiarkan siapapun membaca karyaku. Yang kulakukan hanya menulis diary dari hari ke hari dan membuat tugas mengarangku sebaik mungkin agar dapat nilai bagus.

Aku semakin mengenal sosok Helvy di buku segenggam gumam ini. Kiprah Helvy dalam dunia kepenulisan bukan seperti membalik telapak tangan, terjadi sekejap dengan mudahnya. Yang dilakukan Helvy adalah berjuang melalui tulisan-tulisannya terutama dalam pengembangan sastra Islam sehingga karya-karya sastranya banyak bernuansa Islami, membela kaum-kaum yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, yang membuat tulisannya tidak asal jadi namun melalui sebuah penelitian panjang dengan data-data yang akurat namun di kemas dalam fiksi yang mengandung manfaat begitu besar bagi pembacanya. Bagi Helvy, menulis adalah proses belajar seumur hidup. Hidup di dunia baginya adalah rangkaian ibadah dan kesempatan berbuat kebaikan semata. Menulis cerpen, bila dikerjakan dengan niat baik dan kesungguhan, insya Allah akan membawa maslahat bagi diri pengarang dan masyarakat pembaca dan ini akan menjadi ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah, itulah yang dikatakannya. Dunia sastra seperti menjadi rumah kedua bagi seorang Helvy berdiam. Betapa Ia mendalami sastra dengan segenap pikiran dan jiwanya yang tergambar dalam setiap tulisannya. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan hidupnya, menulis dan terus menulislah yang dilakukan Helvy.

Dalam usianya yang muda, bersama Asma Nadia dan Muthmainnah berhasil membentuk sebuah organisasi penulis. Dari mengadakan bengkel penulisa kecil-kecilan untuk membantu penulis-penulis pemula mengembangkan kemampuan menulisnya, merekrut anggota sambil tetap bergiat menghasilkan karya-karya tulisnya sendiri. Salut! Ternyata apa yang dikatakan orang tentangnya memang benar adanya.

Yang mengejutkan, ternyata di dalam Segenggam Gumam ini, Helvy juga menuliskan sejarah berdirinya FLP, program kerja FLP dan semua tentang FLP yang ingin ku ketahui dan mungkin juga ingin diketahu para anggota baru FLP lainnya. Harusnya, buku ini dijadikan buku pegangan yang harus dimiliki para penulis pemula yang baru bergabung di FLP. Aku beruntung sekali mendapatkan buku ini.

Buku Segenggam Guman ini bukan hanya gumaman Helvy semata. Gumaman sambil lewat yang di dengar syukur, tidak pun, taka pa. Tidak seperti itu. Bagiku, buku ini adalah pikiran-pikiran cemerlang Helvy yang sangat membantu penulis pemula seperti diriku. Seperti pada bagian “ Beberapa Kelemahan Cerpenis Pemula” ( Hal 15, Segenggam Gumam), disini Helvy menjabarkan kelemahan-kelemahan apa saja yang umum dilakukan seorang cerpenis pemula. Dari sini aku dapat belajar untuk menghindari kelemahan-kelemahan tersebut, walaupun sangat susah karena di bab sebelumnya yang berjudul “Menulis Tanpa Beban…..” karena aku lebih suka menulis tanpa beban seperti yang di jabarkan dalam bab ini. Buku ini bagus sekali, karena Helvy membahas tiap bagian di sertai contoh-contohnya sehingga aku dapat menyimpulkan dengan lebih mudah. Tidak seperti buku-buku teori menulis lain yang membahas tentang menulis dengan begitu rumit dan akhirnya susah di cerna.

Buku kedua yang kubaca adalah buku antologi pilihan yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing House dengan judul Lelaki Semesta yang ternyata ini adalah judul dari cerpen Helvy. Helvy menceritakan sosok seorang lelaki yang begitu di cintai semua orang, yang begitu baiknya malah mendapatkan tuduhan sebagai dalang kericuhan di dalam dan di luar negeri. Rangkaian kata-kata yang dituliskannya begitu indah hingga aku bisa menghadirkan sosok tersebut dalam pikiranku dan memberikan kesan yang begitu mendalam.

Buku terakhir yang kupunya adalah buku kumpulan cerpen dwibahasa yang berjudul “ Lelaki Kabut dan Boneka”. Satu demi satu cerpen di buku itu ku baca. Aku larut dalam bahasa santunnya yang mengalir namun mampu membawa pembaca masuk dalam ceritanya. Begitu dalam begitu berkesan. Kapankah aku bisa menulis cerita seindah Helvy menuliskannya?

Ternyata Helvy memang membawa inspirasi bagi siapa saja yang membaca karyanya, seperti yang mereka katakan. Seperti yang di internet-internet itu bilang. Ternyata benar….Karena hari ini seorang Helvy memberikan juga semangatnya kepadaku agar aku terus belajar dan berlatih untuk menghasilkan karya yang dapat menggugah perasaan yang membacanya. Karya yang dapat member manfaat bagi orang lain. Karya-karya yang begitu indah seperti karya Helvy Tiana Rosa. Dan aku akan terus menulis dan menulis tanpa kenal lelah, tanpa pantang menyerah.

Minggu depan, jika hasil wawancara penerimaan anggota FLP Banjarmasin memutuskan aku dapat menjadi bagian dari organisasi penulis ini, aku akan mendorong sesama anggota baru untuk memiliki buku Helvy yang sangat inspiratif, terutama segenggam gumam. Aku akan bercerita bagaimana perjuanganku mendapatkan buku ini dan hasilnya tak sia-sia. Aku juga akan berbicara tentang apresiasi. Bagaimana kelak karya yang dihasilkan penulis-penulis baru akan di apresiasi orang lain jika dari awal para penulis baru ini tidak bisa mengapresiasi karya-karya milik para penulis seniornya. Dan salah satu bentuk apresiasi itu adalah dengan membeli, memiliki dan mempelajari serta mengambil manfaat yang pastinya akan sangat berguna bagi perkembangan dunia kepenulisan yang baru akan di rintis oleh para pemula seperti aku. Bentuk apresiasi yang lain adalah menghilangkan kebiasaan meminjam agar buku-buku bagus dimiliki banyak orang dan tak perlu sampai teronggok di pojokan rak buku sebuah toko buku dengan sampul yang menguning….

Mbak Helvy, dari ketiga buku ini aku mengenalmu. Walaupun sebenarnya aku menjadi begitu ingin memiliki buku-bukumu yang lain yang katanya sudah 16 judul. Dari karya-karyamu inilah aku tahu siapa dirimu yang mampu bercerita dengan kata-kata lembut namun dalam. Aku tak menyesal mengenalmu walau hanya melalui karyamu saja. Mungkin terlambat bagiku. Tapi aku akan sangat menyesal jika tak tahu sama sekali tentangmu.

Mbak Helvy, tulisan ini akhirnya ku buat untuk melukiskan betapa senangnya hatiku bisa mengenalmu melalui karya-karyamu. Walau batas waktu lomba essay itu telah berlalu, tak apa. Menulis bukan hanya sekedar menang atau kalah. Menulis adalah berbagi. Aku ingin membagi apa yang kudapat dengan aku mengenalmu seperti ini.

Mbak Helvy, Aku hanya ingin kau tahu, bahwa tulisanmu di tiga buku yang kumiliki ini ternyata mempengaruhiku begitu dalam. Mbak Helvy telah mempengaruhi seorang Monica yang sangat tak percaya diri masuk dalam dunia ke penulisan dalam usia yang katanya cukup terlambat untuk memulai karir sebagai penulis, menjadi berani melangkah dan bergiat dan terus berlatih untuk membuat karya-karya yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Mbak Helvy yang kukagumi, terima kasih. Terima kasih atas karya-karya indahmu. Terima kasih sudah membuatku memantapkan hati untuk mengikuti jejakmu. Jika suatu saat nanti dan di waktu yang tepat dan memang diberikan kesempatan, aku dapat bertemu langsung denganmu. Mengenalmu secara nyata….. Aku akan kembali mengucapkan rasa terima kasihku ini kepadamu atas segala keindahan karyamu yang terpatri dalam hatiku.

Minggu, 18 April 2010

Harapan

HARAPAN


Jangan pernah berhenti berharap. Apapun itu.

Teruslah berharap karena dengan segala harapan kita akan tetap kuat
menapaki jejak-jejak kehidupan.


Memang tidak mudah.....
Adakalanya satu harapan tak terwujud. Dan membuat kita terjatuh.
Tapi kembalilah berdiri, walau dengan langkah yang goyah....
Janganlah berhenti berharap.

Ketika tangisan dan dera air mata mengharu biru.
Ketik
a rasa sakit membabi buta...
ketika kaki-kaki kehidupan retak dan mulai patah...
Tetaplah
teguh untuk terus berharap...
Jangan pernah lelah..
Jangan pernah menyerah..

Karena...

Harapan akan indah tepat pada waktunya.

Aku akan terus berharap, biar seribu kegagalan menghadang
Aku akan tetap kembali berdiri, ketika aku harus jatuh bangun dalam setiap langkahku di jalan yang penuh dengan kerikil tajam.
Aku akan terus mengetuk, ketika setiap pintu seolah menutup dari hadapanku.
Akan kubuat mereka tetap memandangku, walau setiap wajah memalingkan dengan angkuh saat menatapku.
dan aku akan terus merajut tali-tali senyuman, ketika tangisan demi tangisan menghiasi malam-malamku


10 tahun yang lalu kuhadapi malam dengan tangisan merana. Kelahiran seorang anak yang harusnya membawa kebahagiaan berubah jadi tangisan pilu.. saat kulihat bayi lucu tergolek membiru nyaris putus napas satu-satu. sisa 12 jam lagi... dan jika tidak malaikat ini akan pergi melayang.
Tuhan menciptakannya tidak sempurna. Satu ginjal dan tanpa pembuangan.
Saat itu dalam keadaan goyah.... aku masih punya harapan. Tuhan tak akan semudah itu mengambilnya.
Tuhan pasti masih memberiku kesempatan untuk merawatnya. Dan memang... dalam bantuan tangan-tangan baik... dia terselamatkan malam itu.

Hari berganti hari setelahnya. Tidak mudah merawat bayi aktif yang terus menangis karena tangisan kesakitan akibat luka di perutnya karena untuk pembuangan sementara, kulit-kulit halus yang melapisi perut mungilnya mulai luka dan bernanas dimana-mana. Dan aku sendirian!
Penerimaan ayahnya tidaklah seperti yang kuharapkan. Penyesalan yang harusnya di tebus dengan kasih sayang nyaris tak didapatkannya. Tapi demi apapun, aku akan melakukan apa saja untuk malaikat mungilku. Demi apa saja kutahan segala himpitan perasaan. Apapun...

Tahun mulai berjalan. Keadaan mulai membaik. Malaikat kecilku tumbuh dengan lincahnya. Colostomy bag tak lagi menghiasi perutnya. Pembuatan saluran pembuangan berhasil dilakukan. Tak ada lagi tangisan kesakitan setiap hari. Hanya sesekali dengan perasaan pilu aku harus melakukan pembusian ( memasukkan sejenis besi berbentuk peluru yang besarnya tergantung perkembangan tubuhnya) agar lubang buatan itu berkembang seiring dengan perkembangan tubuhnya.
Dan kembali aku sendirian. Dimana ayahnya? Hura-hura tak berketentuan. Tapi harapan tetap kurajut dalam hati. Semua akan membaik suatu saat. Yah... semua akan baik-baik saja.

Ternyata tidak!! Dalam usia perkawinan 3tahun... akhirnya perpisahan itu terjadi. Ketidakcocokan dalam rumah sudah tak bisa ditolerir. Ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung sama sekali tak memenuhi fungsinya. Narkoba menghiasi hari-harinya membangun tembok yang begitu besar dalam rumah mungil kami. Dan dengan segala upaya. Malaikatku dibawa. Pengacara mahal dibayar untuk mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Huru hara dalam perpisahan ini sangat menyakitkan.

Aku? Apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan malaikatku? Pengaraca mahal? Aku tak mampu membayarnya. Tangisan demi tangisan mengeringkan air mata. Rasa tak berdaya nyaris membelenggu jiwa tanpa tertahankan. Tapi aku punya harapan. YAH.... AKU HANYA PUNYA HARAPAN.
Dukungan ayah, Ibu dan sodara-sodaraku sangat menguatkanku. Dalam2 tahun setelah hari keributan itu... aku tak lagi bisa menggendong, menyentuh bahkan mendengar suara kecilnya memanggil namaku.
2 tahun benar-benar hilang kontak dengan malaikatku.

Beberapa kali aku di panggil oleh pengacara mereka dan di iming-imingi sejumlah uang agar melepas malaikat kecilku. Malaikat kecilku seoalh-olah sebuah barang mainan yang berani mereka beli mahal.
Hai.... dengarlah dunia. Aku tak akan pernah menukar malaikatku dengan gelimangan materi sedikitpun!
Beberapa kali sang pengacara mengatakan, jika tetap nekat berusaha merebut malaikatku dari tangan mereka, tak akan ada tunjangan apapun untuknya. Aku tak takut Pak Pengacara, Malaikatku akan kembali padaku tanpa aku harus berusaha merebutnya. Materi bisa dicari. Tapi sampai ke ujung dunia manapun... malaikat kecilku hanya satu. Ciptaan maha sempurna dimataku.

Hari-hari tanpa malaikatku .... kurajut dalam benang-benang harapan. Setelahnya aku mulai bekerja dalam hari-hari sepiku. Karena aku tetap memilih hidup jauh dari rumah ayahku. Hatiku hanya punya HARAPAN. Dan ternyata HARAPAN yang kubangun tidaklah sia-sia. Tuhan tak pernah meninggalkanku.

Hari itu harapanku terwujud. Tanpa pengacara mahal dan hebat yang mampu kubayar, malaikatku kembali kepangkuanku.Hakim Agung di Atas Sana mengetokkan paluNya dengan begitu adilnya.
"Mama, aku kangen mama. Jangan biarkan aku pergi lagi yah" Kalimat pertama yang kudengar dipertemuan pertama setelah 2 tahun berpisah benar-benar membuat air mataku mengalir deras. Air mata kebahagiaan karena HARAPAN tidaklah pernah sia-sia.

Satu harapan telah terwujud. Tapi jalan kehidupan terus berlanjut.
Roda-roda kehidupan itu berputar dengan anggunnya.... kadang di jalan mulus tanpa lubang..... kadang di jalan terjal dan berbatu.....
Aku mengarungi lautan kehidupan dengan malaikatku menyertaiku. Tangan kecilnya menggenggam erat jari jemariku dan memberikan banyak kekuatan dalam langkah-langkahku.

Dan aku takkan lelah merenda harapan. Seberapa pun mahalnya harga yang harus kutanggung. aku yakin jalan-jalan akan tetap terbuka lebar memberikan segala anugerah dalam kehidupanku walau dengan berbagai macam cara.
HARAPANKU BERIKUTNYA...... Aku ingin memberikan kebahagiaan dalam hidup malaikatku. Aku ingin melihatnya melalui hari-hari ceria masa kanak-kanaknya. Aku ingin memberikan pendidikan untuk bekalnya mengarungi episode kehidupan berikutnya. Dan aku ingin meninggalkan kenangan disuatu hari kelak dalam hatinya.
"Ini loh sayang.... mamamu... dengan tanganku, dengan keringat dan air mataku, aku akan memberikan segala bekal kehidupan dalam pangkuanmu. Dan aku tak akan pernah menukarmu dengan materi apapun. Karena kamulah hartaku yang paling berharga"

Dan berlayarlah harapanku ini.... menuju episode-episode kehidupanku selanjutnya.

Note : Tulisan ini pernah diikutkan di lomba "Sail Your Hope" yang di muat di note FBku

Senin, 05 April 2010

Mimpi

“Sudah dong, Ra.... Aku capek kaya gini terus kejadiannya. Tiap telpon selalu ribut.”

“Loh... aku kan cuma tanya kenapa akhir-akhir ini kamu jarang kasih kabar ke aku. Jangankan telpon.... sms aja harus aku yang duluan sms berkali-kali baru kamu balas dengan sms yang cuma satu kali.”

“Berkali-kali uda aku jelaskan kan? Aku sibuk, Ra. Sibuk banget akhir-akhir ini. Kamu juga kan yang nyuruh aku untuk usaha lebih giat, untuk lebih semangat mencari-cari peluang. Sekarang peluang itu ada di depan mata, Ra.... Eh malah sekarang kamu curiga terus. Aku capek, Ra kalau tiap kali telpon harus ribut kaya gini.”

“Sesibuk-sibuknya orang, masa gak ada istirahatnya sih? Dan dari saat istirahat itu, kamu bisa kan meluangkan waktu 5 menit aja untuk kasih kabar ke aku. Cuma 5 menit!” teriak Rara.

“Ra, diklat 3 hari ini benar-benar membuat aku kehabisan waktu, Ra. Dan kadang-kadang saat jam istirahat kugunakan waktu untuk berdiskusi atau sekedar mengenal para rekanku sesama peserta diklat, siapa tahu ada peluang-peluang lain. Nah masa orang lagi diskusi gitu aku harus sambil sms-an sama kamu. Ga sopan itu, Ra. Dan orang jadi ga respek sama aku, kalau aku sampai melakukan itu.”

“Aku cuma minta sedikit waktu aja kok. Kamu terlalu banyak alasan. Ada aja yang kamu jadikan alasan kenapa kamu sekarang gak memperhatian ma aku lagi.”

“Terserah apa katamu lah. Aku benar-benar capek. Harusnya kamu mendukungku, tapi kamu malah selalu mencari hal-hal yang bisa kamu jadikan bahan untuk ribut. Aku benar-benar capek.” jawabnya dari seberang sana sambil menutup telpon langsung tanpa pamit.

Rara terdiam. Menangis pun rasanya percuma. Selalu saja jadi ga enak keadaannya setiap acara bertelpon ria seperti ini. Harusnya saat-saat seperti ini menjadi moment indah mereka berdua untuk saling melepaskan rindu karena lama tak bertemu.

Ah... inilah yang kutakutkan bakal akan terjadi sama hubungan kita. Dulu aku pikir rencana untuk pisah sementara meniti masa depan adalah hal terbaik untuk kita. Dan sesuai rencana, 2 bulan lagi aku akan menyusulmu. Tapi kenapa malah seperti ini kejadiannya? Sebulan terakhir ini, kita selalu bertengkar. Kamu yang dulunya begitu perhatian kepadaku kenapa sekarang malah jadi tak peduli? Rara berkutat dalam kegelisahan hatinya.

Instingnya mengatakan bahwa pasti terjadi sesuatu yang membuat Andre berubah. Sejujurnya Rara sangat senang ketika mendapat kabar bahwa Andre mendapat kesempatan untuk bekerja menjadi peserta rekanan salah satu instansi pemerintah sebagai petugas entry data. Rara pun sebenarnya maklum saja akan pekerjaan Andre pastilah sangat banyak. Pada awalnya Andre masih sering memberinya kabar. Tapi satu bulan belakangan ini semuanya berubah. Tak ada lagi perhatian. Tak ada lagi kerinduan yang terluapkan pada saat bertelpon. Yang ada sekarang hanya teriakan demi teriakan. Dan hatinya yang terselimuti curiga begitu menyiksanya. Hampir tiap malam Rara nyaris tak dapat tidur dengan lelap. Hatinya benar-benar gundah. Rasa takut di khianati, kepercayaan dihatinya yang mulai luntur, kegelisahan akan pertemuannya kembali dengan Andre dan akhir kisah hubungan jarak jauh ini akan seperti apa terus menghantui setiap relung pikirannya.

“Ah... menyebalkan....,” jeritnya akhirnya untuk melepaskan segala keresahannya dan berusaha memejamkan mata, subuh sudah menjelang. Rara harus segera tidur kalau ga ingin kesiangan bangun.

* * *

Enam tahun sudah hubungan Andre dan Rara. Enam tahun merenda segala moment-moment kehidupan yang mereka jalani bersama. Menangis dan tertawa bersama telah menjadi bagian dalam hari-hari mereka. Tak ada yang tersembunyi. Cinta yang mereka jalin dengan apa adanya. Tanpa polesan dan sandiwara. Sampai akhirnya keputusan Rara untuk menerima pekerjaan di kota lain membuat mereka harus berpisah sementara.

“Ambil aja kerjaan itu, Ra. Dapetnya kan lumayan tu buat nambahin tabungan kita.” saran Andre ketika itu.

“Tapi kita terpisah loh, Ndre. Apa bisa kita hidup terpisah? Satu tahun itu lama loh, Apalagi banyak teman- teman yang hidup terpisah gitu akhirnya malah ga jadi.” Rara sangat ragu-ragu menerima tawaran kerja itu.

“Ini kesempatan bagus, Ra. Peluang itu ga akan datang dua kali loh. Aku biar disini aja. Mengelola usahaku ini siapa tahu bisa berkembang. Kalau gak ya aku nanti coba-coba cari peluang lain. Tapi yang penting kamu dapat kesempatan yang bagus gini jangan sampai disia-siakan.” kata Andre menenangkan Rara.

“Tapi..... ntar kalau kangen gimana? Kalau kamunya selingkuh gimana?”

“Ga akan lah. Kamu itu calon istri yang kupilih. Cuma kamu yang ada di hatiku dan aku gak mau ada yang lain lagi. Kamu tenang aja. Cuma satu tahun, Ra. Dan di akhir tahun itu, kamu kembali ke kota ini dan kita menikah. Gimana?” wajah Andre yang begitu meyakinkannya akhirnya membuat Rara melangkah untuk menggapai impiannya, mencoba mengais rejeki di kota lain.

* * *

“Andreeee.....!! Kamu harus menjelaskan semuanya ke aku. Apa maumu sebenarnya sih?? Empat hari ini kamu bagai menghilang di telan bumi. Kutelpon berkali-kali, ga kamu angkat. Malah kadang handphonemu mati. Smsku gak kamu balas. Apa maumu sih???” emosi Rara benar-benar pecah sekarang ketika akhirnya handphonenya tersambung ke Andre setelah belasan kali mencoba.

“Ra, aku capek dengan semua ini. Aku ga mau lagi menjalani semua ini.” jawab Andre dari ujung sana.

“Apa maksudmu, Ndre?”

“Kita sudahi aja semua ini. Aku ga tahan akan sikapmu. Kamu mencurigai aku terus. Aku capek jadi orang yang ga kamu percayai, Ra.”

“Maksudmu kita putus???? Lalu janjimu untuk menikah dua bulan lagi itu......” Rara mulai tak dapat menahan segala emosi yang melandanya.

“Batal! Buat apa hubungan ini dilanjutkan kalau kamu ga bisa mempercayaiku....” ketenangan suara Andre membuat hatinya hancur berkeping-keping.

“Ga mungkin hanya alasan itu, Ndre. Alasanmu sama sekali ga masuk akal!!! Jujur aja, Ndre.... Please.... Hatimu sudah di isi dengan yang lain kan??”

Keheningan menyelimuti.... Tak ada jawaban dari Andre.... Hanya isak tangis Rara memenuhi seluruh jaringan yang menghubungkan dua handphone di kota yang berbeda itu.

“Namanya, Echy, Ra. Aku lebih memilihnya.... Maaf.”

Sebelum Rara sempat menjawab, nada terputus langsung terdengar....

* * *

“Aaaaaahhhhh...............” teriakan kalut Rara membahana

“Aku gak mau putus, Ndree! Kenapa kamu lakukan ini...!!!!”

“Bruaaakkk.....” Rara jatuh.

Dengan bingung Rara membuka matanya. Sinar matahari menembus sela-sela tirai yang menutup jendela kamarnya. Di tatapnya handphone yang tergeletak di atas meja rias di seberang tempat tidurnya. Di lihatnya jam dinding yang menempel di atas meja rias, jam tujuh.

Rara langsung menarik nafas lega. Ah … ternyata hanya mimpi. Pastilah mimpi ini ada karena terbawa kejadian sesaat sebelum dia tertidur subuh tadi.

Rabu, 30 Desember 2009

Sekelumit Masa Lalu.....Songsong kehidupan Baru di Tahun Baru

Ada seorang teman bertanya : "Cinta lama jika kembali bersemi gimana? Mau?"

Jawabku : Kalau bisa sih jgn deh.... Cinta lama yg sudah pernah bikin luka dihati... walau terjadi dimasa lalu... buat apa di ulang kembali? Mungkin akan berakhir sama aja dan hanya memperdalam luka yang pernah ada.....

Trus dia tanya lagi : "Kalau mantan suami yg ngajak balikkan... Kmu mau?? Demi anak deh alasannya...."

Jawabku :.... Cinta yg dl pernah ada ... uda cacat juga... Pertengkaran yg sudah berakhir dgn perceraian... trus ada cinta" lain yang pernah mampir diantara kami berdua... dan ada pernikahan" lain yang sudah dia jalanin...tak akan bisa membuat cinta yg dulu mengikat kami kembali seperti semula... Malah mungkin yg ada, kita kembali membandingkan masa2 ada cinta" baru yg telah mampir, mengingat luka hati yg sudah tertoreh...dan akhirnya....dengan mencoba mengulang luka lama namun hanya dengan imbalan mendapatkan luka yang lebih dalam....apa kehidupan seperti itu yang kita inginkan???

Cerita lama cukuplah menjadi cerita lama. Toh persahabatan dan pertemanan masih bisa berjalanan tanpa perlu melibatkan perasaan lagi.....
Alangkah lebih baiknya jika kita hidup hanya menyongsong masa depan saja.... Cerita lama merupakan pembelajaran yang telah terbayar dgn apa yang sudah kita alami selama ini.

Jika memang masih memerlukan cinta/pendamping hidup..... masih banyak diluar sana orang yg dapat menerima kita apa adanya dan mungkin mencintai kita lebih dari yang kita harapkan.....( tinggal kitanya saja yang lebih selektif dalam menentukan pilihan...)

Atau jika pilihan hidup sebagai single fighter yang menjadi pilihan..... tak ada salahnya kan? Toh masih banyak hal-hal indah yang bisa dilalui dan di jalani tanpa adanya keterlibatan fisik atau sejenis kata cinta semu.....

Ada lagi cerita :
Someone : "hai... lama gak bertemu....Sejak kapan di Banjarmasin?"
Me : " wah... baru lima bulan kok...Duh berapa anakmu sudah?
Someone : baru 2 nih.... kmu brp???
Me : Baru 1 kok....
Someone : loh... kok gak nambah lagi??? Kasian klo cm 1... nanti ga ada temennya
Me: Wah... ada 1 aja uda syukur... mo nambah lagi?? ga ada musuhnya nih ^^
( Pembicaraan khas ibu2 yang lama gak bertemu berlari menghabiskan waktu bermenit-menit)

Someone : Loh mang kamu nikah ma sapa?? anak banjar juga kah?
Me : Bukan... nikah ma tetangga kost .....
Someone : Eh kmu tau ga aku nikah ma sapa??
Me : he? ma sapa emanknya??? Ga tau aku... gr2 jarang pulang Bjm ... aku nyaris gak tau berita apa2
Someone : kmu inget yudi?? Ituloh yang dulu aku sering jadi kurir mengantarkan surat cinta Yudi buatmu dan balasan dari kmu buat Yudi??
Me : Hah??? Mang kmu kawin ma Yudi??
Someone: Iya.... gara2 kualat ma km.... maksud hati bantu jadi comblang antara kmu dan dia.... eh pas SMA aku malah ketemu dia lagi.... Jadi deh..
Me :hahahha... baguslah... berarti mang jodohmu tuh...Soalnya waktu itu aku lebih suka ma Ari drpd Yudi.... :p (oalah aku nyengir juga inget cerita masa SMP)
Someone : tp heran juga yah ... napa aku bisa nikah ma bekasmu... apa nasib org sahabatan mang gitu??
Me : hah?? bekasku??? astaga... gak sampe jadi bekas kali... bzzzzzz

Sekelumit cerita masa lalu yang ternyata bisa dijadikan bahan candaan. Dan ternyata nilai persahabatan tidak sedikitpun luntur karena itu.... Hidup itu penuh dengan pilihan-pilihan.... dimasa lalu... pilihan yang sudah kita pilih.... itulah jalan yang memang kita kehendaki... dan apapun yang terjadi saaat kita melalui setiap perjalanan itu... banyak hal yang membuat kita menjadi lebih dewasa, semakin dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian..... dan terus maju tanpa kenal lelah... untuk merangkai kehidupan di depan dengan yang lebih baik.....

So.... Masa lalu....masa yang telah kita lewati dgn segala suka dukanya....adalah hal-hal yang tak perlu kita ulang kembali... Jadikan semuanya sebuah cerita yang hanya patut dikenang sebagai bunga-bunga kehidupan kita....

Masa sekarang adalah masa yang akan datang.... Tahun demi tahun akan terus datang yang baru...
Mari songsong dengan semangat baru.....Happy New Year 2010....
Tutup lembaran yang lama... mari menulis cerita kembali di lembaran yang baruuu.....

Jumat, 25 Desember 2009

Aku Selalu Mencintaimu

Aku Selalu Mencintaimu

“Kringggg….”

“Kringgg…”

Ah… suara yang sangat mengganggu yang sayup-sayup terdengar dalam tidurku. Dengan malas ku berbalik menghadap jendela… ternyata hari sudah terang benderang dan sepoi angin pagi berselaput embun berhembus lemah menerpa tubuhku. Kutolehkan kepalaku ke arah nakas di samping tempat tidurku dan sadarlah bahwa suara yang mengganggu itu adalah suara wekerku.

“Astaga…. 07.25….” Teriakku sambil meloncat turun dari tempat tidurku. Bergegas aku lari ke kamar mandi. Telat lagi deh hari ini…. Pikirku lemas.

Tak sampai dari 10 menit aku telah siap berangkat ke kantorku. Sekilas ku tatap tempat tidur di sisiku….. Ah… Bintang telah berangkat pagi-pagi sekali seperti biasanya. Kukeluarkan motor dari garasi rumahku dan mulai ikut dalam hiruk pikuk kemacetan kota Surabaya di pagi hari.

Akhirnya sampai juga aku di kantorku di daerah Pucang. Kulirik jam tangan di pergelanganku… 07.55… Masih ada waktu 5 menit lagi… pikirku sambil memarkir sepeda motorku di parkiran khusus karyawan. Menyampirkan tas kerja di pundakku dan dengan langkah lebar, aku bergegas. Baru saja tanganku mendorong pintu masuk kantor… tiba-tiba…..

“Happy Birthday…..”

“Selamat Ulang Tahun, Cha….”

Di tengah keterkejutanku, tiba-tiba lagu ulang tahun membahana. Mbak Wati, salah seorang rekan kerja yang dekat denganku maju ke arahku dan memelukku sambil nyengir.

“Selamat Ulang Tahun ya..Bu…. Semoga panjang umur,” katanya sambil mencium pipi kiri dan kananku.

“Oalah… ini pasti idemu ya Mbak…. Tapi makasi banyak yah…” kataku menahan setitik air mata yang mendesak hendak keluar dari sela-sela mataku.

Tak berapa lama, setelah ucapan demi ucapan kuterima, semua teman-temanku membubarkan diri dari hadapanku dan kembali ke ruangannya masing-masing. Aku terduduk di mejaku, ah… Bintang melupakan lagi satu hari bahagia dalam hidupku. Awal tahun lalu pun, Bintang melupakan ulang tahun pernikahan kami. Dan kali ini lagi-lagi, Bintang melupakannya.

Padahal ketika awal pernikahan kami, ketika ulang tahunku tiba tepat jam 12 malam. Bintang akan membangunkanku, dengan senyumnya yang menawan dia mengucapkan Selamat ulang tahun padaku, menyodorkan sebingkis hadiah dan pelukan hangatnya langsung merengkuhku dalam pelukannya. Dan keesokan harinya, Bintang akan mengajakku menikmati makan malam bersama untuk merayakannya di sela-sela kesibukan kami.

Tapi lambat laun, hal sederhana namun sangat istimewa ini terkikis begitu saja dalam kehidupan kami. Terenggut paksa oleh sebuah komitmen dimana Bintang mendapat promosi di kantornya dengan konsekuensi tugas-tugas yang semakin menggunung. Waktu kebersamaan hilang perlahan, Bintang pulang dari kantor ketika jauh malam disaat aku telah terhanyut dalam mimpiku. Dan berangkat ke kantor sebelum matahari terbit, disaat aku belum terjaga dari tidurku.

Ah… mungkin aku yang harus memulainya lagi agar Bintang tak terhanyut dalam kesibukannya… putusku dengan tekad membara dalam hati. Dengan semangat yang membuncah dalam hati, aku memulai semua pekerjaanku hari ini dan ingin mengakhirinya tepat waktu. Jam istirahat siang nanti aku akan menelpon Bintang untuk mengundangnya makan malam……

“Hallo sayang, Cha ganggu bentar yah…..” kata-kataku langsung menyerocos ketika kudengar suaranya menyapa disana.

“Ya..Cha… Ada apa? Aku agak sibuk nih padahal jam makan siang gini tapi nyaris ga ada waktu buat istirahat.” Keluhnya seolah-olah ingin menyatakan betapa sibuknya dia.

“Wah maap kalau ganggu ya, tapi aku ingin kau pulang lebih cepat hari ini. Aku akan memasak makanan kesukaaanmu malam ini. Bisa kan?”

“Hmmmm.. Ku usahakan ya Cha….” Katanya ragu-ragu.

“Ok… tapi kuharap kamu sungguh mengusahakannya sayang…. Kita sudah lama ga makan malam bersama…” putusku.

“Ok..Ok…. sampe nanti malam…. “ katanya langsung memutuskan telpon sebelum aku sempat mengatakan apa-apa lagi.

Tanpa menduga-duga apapun, aku melanjutkan pekerjaanku. Semoga saja Bintang benar-benar mengusahakannya…. Harapku dalam hati berusaha mengenyahkan pikiran negatif yang mengganggu.

Begitu sibuknya aku menginginkan pekerjaanku selesai semua, nyaris tak berasa waktu pulang kantor tiba. Aku bergegas merapikan mejaku. Mengelompokkan pekerjaan yang telah selesai dan memasukkan kembali ke rak untuk pekerjaanku yang belum jadi.

Bagusnya lagi… hari ulang tahun ini ternyata dihari Sabtu…. Dan baru kusadari ketika aku mengisi jurnal harian pekerjaanku. Wah… benar-benar bagus. Semangat emapt lima menyelimuti hatiku dan aku langsung bergegas meninggalkan kantor dan mampir ke salah satu Supermarket yang dekat dengan rumahku.

Jam 19.00 wib. Makanan telah siap terhidang, tertata rapi di meja makan mungil di rumah kami. Sepasang lilin membuat suasana menjadi lebih romantis. Aku mengecek ulang semuanya agar tidak ada yang terlewatkan. Piring-piring cantik koleksi terbaikku telah terletak bersisian untukku dan Bintang. Sebotol red wine telah manis berpita dalam wadah perak tempat batu-batu es mendinginkannya. Ya… sekarang waktunya aku berdandan, putusku dalam hati setelah merasa semuanya siap seperti yang aku inginkan.

Jam 19.30…. aku duduk manis di ruang tamu, membaca sebuah majalah untuk membunuh waktu yang terasa begitu menyiksa. Sebentar lagi Bintang datang, gaungan sebuah kalimat terus bergema dalam pikiranku berusaha menghapus keraguan yang mulai mendera. Ku bolak balik lembar demi lembar halaman majalah di tanganku tanpa sedikitpun berusaha mencerna apa yang tertulis.

“ Dreeettt… dreeett….”

Getar ponselku yang tergeletak di meja di hadapanku mengejutkanku.

“Hallo…. “ jawabku tanpa memperhatikan sebelumnya nomor si penelpon.

“Cha…. Kamu makan duluan deh. Aku sepertinya ga bakal bisa sampai dalam beberapa waktu ini. Bos mendadak memintaku menyerahkan laporan sekarang juga sebelum aku pulang. Makanlah duluan…. Begitu selesai aku langsung pulang.”

Tanpa sempat mendengar jawabanku, sambung telpon ini langsung dimatikannya. Aku tergugu dalam diam yang menyiksa. Astaga…. Pikirku. Dan tak sampai sedetik aku langsung lari ke kamar. Tak sedikitpun menolehkan pandangan kearah meja makan yang begitu manisnya. Semua sia-sia… batinku dan airmata langsung deras menghiasi mataku dan mengaburkan pandanganku.

Kuhampaskan tubuhku diatas ranjang yang terasa begitu dingin. Kuraih sebuah buku, buku harianku dari salah satu laci nakas di samping tempat tidurku. Di buku inilah segala perasaan yang begitu menyiksa dapat kulampiaskan. Berbulan-bulan hanya di buku ini semuanya tertuang. Betapa rindunya aku akan Bintangku. Betapa menyiksanya hari-hari dimana kebersamaan telah terkikis dari kami. Segala perhatian, kasih sayang dan canda tawa yang kurindukan hanya dapat kutuangkan dalam buku ini. Sosok Bintang yang semakin jauh dari kehidupanku, yang nyaris tak dapat lagi kuraih. Kecurigaan-kecurigaan yang mulai membayang dalam hatiku akan kesibukan Bintang yang nyaris tak bisa diterima akalku.

Airmata mengotori halaman yang kutulis. Membuat tinta tulisanku mengabur dan berbayang. Dan kuakhiri tulisanku dengan “ Bintang sudah tak mencintaiku lagi.” Dan tanpa kusadari, lelah hati membuatku jatuh tertidur.

Bintang

Jam 16.00…. waktuku bergegas pulang. Dengan tergegas kumasukkan laporan yang telah kuselesaikan dan bakal dipakai untuk rapat besok pagi. Kurapikan mejaku dari begitu banyaknya kertas-kertas yang berserakkan, kumatikan CPU komputerku dan menenteng tas kerjaku sambil melangkah ke pintu. Tepat begitu pegangan pintu akan kuraih, pintu terbuka dan sekretaris kantorku masuk tergesa.

“Bintang…. Bapak Pimpinan menginginkan laporanmu diserahkan padanya hari ini sebelum kau pulang, dan mendiskusikan beberapa hal untuk rapat besok.”

“Loh… bukannya laporan ini harus diserahkan dulu ke divisi marketing untuk melihat apakah pasar bisa menerima skema produk baru yang akan kita launching?”

“Iya… rencana awal memang begitu, tapi tadi Bos bilang, selama ini ide-idemu selalu dapat diterima pasar dengan baik dan langsung booming. Jadi lebih ringkas, Bos mempelajari laporanmu hari ini dan tinggal mendiskusikannya besok saat rapat jika ada tambahan-tambahan yang diperlukan.” Istiarti menambahkan “Lagian kamu sih membiasakan semua orang dikantor ini menyita jam pulangmu, jadi seperti sudah menjadi kebiasaan untuk mengganggu ketika kau akan melangkahkan kaki untuk pulang.” Cengiran lucu menghiasi wajahnya.

“Astaga…. Ga bisa kau wakilkan Is?” tanyaku penuh harap.

“Ah… rasanya bukan kebiasaanmu deh, untuk menyerahkan tanggung jawabmu ke orang lain.” Katanya…..”Oh iya, sebelumnya kau Copy beberapa untuk dibagikan ke bagian lain sebelum kau serahkan ke Bos… agar semuanya sudah mempelajari laporanmu itu dan besok tinggal berdebatnya saja.” Sambungnya sambil melambaikan tangan berlalu.

“Astaga…” Sekali lagi kugumamkan kata itu dalam keterkejutanku. Rencanaku untuk pulang lebih cepat langsung buyar bagai kabut asap yang tertiup angin dihadapanku. Mungkin jika aku bergegas, waktu yang kuperlukan akan cukup. Putusku sesegara mungkin dan setengah berlari menuju ruang personalia dimana tempatnya mesin fotokopi tersimpan.

Sementara menunggu lembar demi lembar selesai terfotokopi, pikiranku melayang dalam bayang-bayang bagai melihat slide film kehidupanku.

Prestasi dalam bekerja yang selalu menghiasi ambisiku terwujud. Promosi dan kenaikan jabatan yang kuincar akhirnya kudapatkan dengan konsekuensi yang rasanya begitu mahal kubayarkan dengan hilangnya begitu banyak hari-hari istimewa dan kebersamaanku dengan Micha. Kesibukanku nyaris tak masuk diakalku sendiri. Rasanya pekerjaan untuk 10 orang harus ke atasi sendiri. Tapi aku memaklumi karena kantorku merupakan anak cabang perusahaan yang baru saja dibuka, dengan tenaga kerja terselektif ( Istilah yang diberikan oleh Istiarti bagi karyawan yang berhasil masuk dalam kantor ini ).

Desain demi desain untuk produk-produk yang dihasilkan perusahaan utama masuk ke meja kerjaku bagai hujan kertas yang menghambur disetiap sudut mejaku. Staf desain yang berada di bawah pimpinanku hanya berjumlah 3 orang yang semuanya manusia-manusia baru dalam dunia kerja. Setelah desain mentahnya dikerjakan mereka, aku membuat finishingnya termasuk bagaimana iklan yang akan digunakan untuk pemasaran produk baru tersebut.

Prestasi gemilang mendapat fasilitas yang lumayan, membuat aku harus terus menunjukkan dedikasiku bagi perusahaan. Beberapa hari istimewa terlewatkan. Aku sadar aku salah karena belum juga dapat membagi waktuku untuk Micha. Kerinduan terselubung sering menghantui tidurku dan hanya bisa berharap Micha memahaminya.

Tadi malam, ketika aku pulang dan mendapati begitu nyenyaknya Micha terlelap membuatku mengurungkan niatku untuk langsung membangunkannya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Lebih baik aku mandi dulu dan setelahnya baru kubangunkan, pikirku saat itu. Namun karena begitu lelahnya, aku malah langsung terlelap begitu membaringkan tubuhku di sebelah Micha.

Hadiah ulang tahun yang telah kusiapkan ikut terbawa kembali dalam tas kerjaku begitu keesokan harinya, aku tersentak bangun dan bergegas bersiap ke kantor karena tak ingin kemacetan membuatku terlambat sampai di kantor. Padahal jam 08.00 tepat aku harus menyambut beberapa tamu yang merupakan klien penting perusahaan yang akan mendiskusikan iklan yang akan dipakai untuk produk perusahaan kami.

“Tang…. Sadar ui…,” sebuah tepukan di bahu mengagetkanku.

“Ardi…. Ngapain kamu disini?” tanyaku kebingungan, tersentak dari lamunan dalam keadaan terkejut ternyata sungguh tak mengenakkan.

“Lah, kamu sendiri ngapain? Bengong di depan mesin fotokopi kaya ayam kehilangan telurnya. Tu mesin dari tadi udah diam tak berbunyi, kamu malah diam aja.”

“Waduh…. Waktu tersia-sia karena lamunan,”teriakku begitu kulirik jam dinding di atas kepalaku yang menunjukkan waktu 16.45.

Ardi tertawa melihatku begitu tergesa-gesanya mensteples lembar demi lembar laporanku sehingga membentuk bebebrapa jilidan berkas buku. 9 buku laporan ku letakkan di atas meja dalam tiap ruangan yang kulewati untuk dibaca pimpinan divisi lain yang akan ikut rapat besok hari. Satu jilid aku masukkan dalam tasku dan yang asli aku rapikan kembali dalam mapnya dan setengah berlari menuju ruangan pimpinanku.

Ternyata waktu yang kulalui di ruang pimpinan tidak terlalu lama. Hanya beberapa diskusi kecil dan sedikit pujian darinya karena aku menyelesaikan laporanku tepat waktu dan kesediaanku untuk pulang lebih lambat dari yang lain kuterima dengan ucapan terima kasih.

Tak berapa lama aku telah duduk dalam mobil yang merupakan salah satu fasilitas kantor untukku dan ngebut ke sebuah cake shop untuk membeli Tiramisu cake kesukaan Micha. Sambil menyetir mobilku, ku telpon Micha mengabarkan aku akan terlambat. Aku tahu apa yang Micha harapkan ketika tadi siang dia menelponku. Perayaan ulang tahunnya yang terlupakan. Dan sejujurnya aku tak ingin melalui hari ini seperti hari-hari istimewa lain yang telah terlalui begitu saja. Aku ingat hari ini ulang tahun Micha.

Namun kecepatan mobilku tidak seperti yang kuharapkan. Kemacetan lalu lintas kota Surabaya saat jam pulang kerja ini menjadi benar-benar menyiksaku saat ini. Perjalanan dari daerah Raya Darmo menuju jalan Biliton terasa sangat lama.

Tiramisu cake telah ada di atas jok penumpang disebelahku dan sebuket mawar merah tersanding manis disebelahnya. Sedikit kelegaan merayapi hatiku. Namun tetap saja rasa gugup melandaku ketika kulirik jam di dasbor mobil sudah hampir jam 20.00. Rumahku di daerah Juanda tetap saja bagai berpuluh-puluh kilo meter lagi baru akan kujelang. Mobilku yang merayap di sepanjang jalan A.yani akhirnya dapat membebaskan diri dari kemacetan. Namun tetap saja waktu tak dapat menunggu seperti yang kuharapkan.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 ketika aku memarkir mobilku digarasi. Menutup pagar dan masuk ke dalam rumah. Lampu-lampu menyala terang benderang di setiap bagian ruangan. Dengan miris aku menatap meja makan dan melihat begitu banyaknya hidangan yang aku yakin telah dimasakkan Micha sendiri dengan cintanya kepadaku. Dan kesedihanku tak dapat kusembunyikan ketika kutatap piring makan Micha yang masih bersih dan tergeletak manis disebelah piring makanku. Micha belum menyentuh makanannya pula karena menungguku tiba.

“Micha….” Panggilku dengan suara yang tak yakin dapat di dengarnya karena aku sendiri mendapati suaraku nyaris berbisik.

Micha terbaring di atas tempat tidur kami dengan sebuah buku ditangannya. Buku penuh tulisan dengan tinta yang membelobor dimana-mana karena airmata. Kesedihannya begitu jelas tertuang dalam kata demi kata yang ditorehkannya.

Dear Dairy,

Aku tak tahu lagi kemana aku harus mencurahkan segala isi hati yang begitu menyesakkan dadaku. Satu lagi hari istimewa terlewati begitu saja. Ulang tahunku kali ini akan sama dengan ulang tahunku yang telah terlewat tahun-tahun yang lalu. Keindahan dan kemesraan yang kudapatkan dari orang yang paling aku cintai sedikit demi sedikit aus bagai bebatuan yang diterpa air terjun yang begitu besar. Kemesraannya, canda tawanya seolah dapat membunuhku secara perlahan karena aku begitu mendambakannya. Tak perlu hadiah mahal nan memikat mata untuk mengungcapkan perasaan, hanya sedikit perhatian, “selamat ulang tahun, sayang” sudah dapat menghapus seluruh dahagaku dalam tahun-tahun yang begitu sepi akhir-akhir ini. Aku merindukan Bintangku, yang selama ini selalu menghiasi segala penjuru aozoraku dengan kerlap kerlipnya yang menyilaukan mata. Adakah hal lain yang begitu memabukkan Bintang sehingga Ia melupakan setiap sensasi kehidupan kami yang dulu begitu membahagiakan? Adakah seonggok hati lain yang menghiasi hatinya? Ataukah pekerjaannya yang begitu membuatnya berambisi menjadi yang terbaik dapat menyingkirkan aku dari kehidupannya?

Ah…. Aku sangat lelah memikirkannya dalam setiap hari-hariku yang begitu sepi saat ini. Dan kesadaran baru menyayat hatiku dengan luka berdarah-darah. Bintang Sudah tak mencintaiku lagi saat ini. Dan aku benar-benar kehilangan.

Kuakhiri tulisan Micha dengan hati yang sakit. Sama sakitnya mungkin seperti yang Micha rasakan saat menorehkan kata demi kata dalam buku ini.

Aku bergegas mandi. Menggunakan pakaian terbaikku. Perlahan namun pasti, kurengkuh tubuhnya yang terbaring begitu lemahnya.

“Micha…… Sayang, bangun…. “ Bisikku pelan di telinganya agar Ia tak terkejut dari tidurnya. Kuusapkan jemari tanganku di punggungnya agar segera tersadar dari mimpinya yang menyedihkan.

“Micha…. Aku sudah pulang. Maukah kau bangun, cha?” tanyaku lagi ketika reaksi yang kudapat tak seperti yang kuharapkan. Micha hanya mengejapkan matanya dengan kebingungan sesaat kemudian airmatanya mulai membasahi pipinya…

“Bintang?....,” tanyanya bagai putrid tidur yang baru tersadar dari mimpinya.

“Selamat Ulang tahun Michaku…. Maapkan aku yang terlambat untuk mengucapkannya. Betapa aku tersiksa ketika tahu aku telah melewatkan malam yang seharusnya menjadi milikku.” Kataku sambil menjangkau sebuket bunga mawar yang tadi kulemparkan begitu saja diatas tempat tidur kami.

“Dan tahukah kamu, tak ada sedikitpun hal lain yang dapat menyingkirkanmu dari hatiku. Sampai kapanku aku selalu mencintaimu, Cha. Maapkan aku yang telah begitu saja dimabukkan ambisiku sendiri. Maapkan aku yang tak bisa membagi waktuku untuk lebih memperhatikanmu seperti dulu.” Kata-kata terus memberondong keluar dari mulutku tanpa dapat kutahan, bagai air yang keluar dari botol yang tersumbat sekian lama….. Ku sodorkan buket bunga itu dihadapannya dan nyaris sepersekian detik, aku bagai tertusuk tatapannya.

“Bintang…… terima kasih. Aku kira kamu telah melupakanku seperti melupakan hari-hari istimewa yang telah lalu. Maapkan aku yang sempat meragukanmu.” Bisiknya sambil memelukku.

Rasa nyaman menyeruak dalam hatiku. Cinta yang menenangkan seperti ini siapa yang sanggup menepisnya. Aku yakin, selamanya aku akan selalu haus akan cinta yang seperti ini.

“Basuhlah mukamu…. Kita nikmati makanan yang telah kamu sediakan untukku, Cha. Dan aku punya kejutan lain yang menunggumu di meja makan.” Kataku membantunya berdiri dan mendorongnya perlahan ke kamar mandi.

Tanpa kata-kata membantah Micha berlalu ke kamar mandi. Aku mengeluarkan kotak mungil yang kupersiapkan beberapa hari yang lalu sebagai kado ulang tahun Micha dan memasukkan ke kantong celanaku. Aku menunggunya di meja makan. Mengganti lilin-lilin yang habis meleleh begitu saja dengan yang baru dan menyalakannya.

“Makanannya telah dingin…. Haruskan kupanaskan dulu,” tanyanya ketika kakinya tertegun disamping meja makan kami.

“Makanan ini akan terasa hangat saat aku menikmatinya bersamamu, Cha.” Kataku menarik kursi disebelahku agar Micha segera duduk.

“Kata-kata gombal darimana pula itu… ,” jawabnya dengan senyum jahil menghias di bibirnya.

Aku tak menghiraukan kata-katanya, mengeluarkan kotak mungil tadi dari kantongku, membukanya, dan langsung memasangkannya di leher Michaku.

“Selamat ulang tahun bidadariku…. Dan tolonglah diingat sampai habis nafasmu, bahwa aku selalu mencintaimu. Sampai kapanpun akan tetap mencintaimu.”

“Oh Bintangku…. Terima kasih.” Micha langsung berdiri lagi dari kursinya dan langsung memelukku. “Tak ada apapun yang kuharapkan selain kehadiranmu, perhatianmu dan rasa cintamu.” Lanjutnya lagi.

Kami menikmati makan malam ini dengan kebahagiaan yang nyaris tak dapat kutuliskan dalam kisah ini. Dan aku berjanji dalam hati, apapun di dunia ini tak akan ada lagi yang kukejar selain Michaku. Membahagiakan Michaku dan tak melupakan kebahagiaan yang selama ini ada bersama kami namun nyaris kusingkirkan demi pekerjaanku.

“Aku Selalu Mencintaimu, Cha,” bisikku menatap kedalaman matanya yang menenangkan.

“Ya… aku akan tetap mencintaimu pula Bintangku. Jangan pernah menghilang dari aozoraku.